STOP KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK!

pelecehan-seksual-guru-ke-murid

Senin, 5 Maret 2017 saya dikagetkan dengan sebuah berita yang dishare di salah satu WA grup yang saya ikuti. Sebuah kasus pelecehan seksual dilakukan oknum guru SD terhadap beberapa muridnya. Yang lebih membuat saya kaget, kasus ini terjadi di kota tempat saya tinggal, Purworejo.

Link Berita : Diduga Cabuli Siswinya, Guru SD Diadukan ke Polisi

Saya yang berasal dari Purworejo tentu saja merasa gusar. Di kota Purworejo yang katanya aman dan tentram, ternyata ada beberapa borok yang tidak bisa terus dibiarkan.

Dari berita yang santer beredar, orang tua korban sudah melaporkan kasus ini namun terduga pelaku masih berkeliaran dengan bebas di sekolah. Tindak lanjut dari pihak berwajib dan pihak sekolah dirasa terlalu lambat. Kondisi ini sungguh sangat disayangkan.

Lanjutkan membaca “STOP KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK!”

Iklan

Kita Sama-Sama Suka Mengenang Banda Neira.

Banda Neira

Yang,
yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

***

Tak ada yang pernah mengira lantunan lagu dari duo Rara – Nanda, akan merebut hati banyak orang—bahkan mereka berdua sendiri pun tak mengiranya. Bermula dari ketidaksengajaan, semesta kemudian merestui lahirnya keindahan baru dalam diri mereka berdua. Duo nelangsa pop asal Bandung ini menamai diri mereka Banda Neira, diambil dari nama pulau tempat dibuangnya Syahrir dan Hatta.

Agustus 2012, Rara Sekar dan Ananda Badudu sepakat merekam 4 lagu yang mereka miliki (Di Atas Kapal Kertas, Ke Entah Berantah, Rindu, dan Esok Pasti Jumpa), kemudian mengunggahnya ke Soundcloud. Tak ada harapan muluk-muluk, sekadar ingin berkarya saja. Tapi siapa kira, berawal dari keisengan di paruh waktu, Banda Neira kemudian beranjak menjadi sesuatu yang terus berjalan lebih jauh.

Lanjutkan membaca “Kita Sama-Sama Suka Mengenang Banda Neira.”

[REVIEW] LO PIKIR LO KEREN JOGJA : Pertunjukan Comedy yang Close To Reality.

“Gue bikin lo semua gak kecewa pokoknya. Itu Janji gue.” – Podcast Awal Minggu (PAM), 00:36 13/11/2017.

Jika statement diatas disampaikan oleh politisi, sudah bisa dipastikan janji hanya sekedar janji yang kemudian kabur kanginan atau menjadi tai. Tapi karena statement diatas disampaikan oleh Adriano Qalbi, sang pemimpin agung Kolam Tai, janji itu layak dinantikan karena pasti akan benar-benar diwujudkan.

Penantian para Kolam Tai regional Jogja dan sekitarnya akhirnya terjawab juga. Setelah dibuat ngiler dengan hype LPLK Jakarta yang menghiasi timeline twitter, akhirnya kesempatan menikmati langsung stand up oleh Adriano Qalbi bisa terwujud juga.

Antusiasme Kolam Tai terhadap LPLK Jogja bisa dilihat dari penjualan tiketnya. 100 tiket pertama dengan harga 85 ribu habis dalam waktu 1 jam. Benar-benar gila. Kemudian 200 tiket sisanya dengan harga 100 ribu habis dalam H-2 minggu. 300 tiket yang disediakan Sold Out. Tidak ada tiket OTS.

Untuk comic yang sangat sedikit sekali tampil di tv, ini sebuah pencapaian tersendiri. Adriano Qalbi memang tidak seterkenal Pandji atau Ernest, tapi bahkan kedua orang—yang bertahta di tahta mainstream—itu mengakui kualitas pertunjukan stand up seorang Adriano Qalbi.

Lanjutkan membaca “[REVIEW] LO PIKIR LO KEREN JOGJA : Pertunjukan Comedy yang Close To Reality.”

Pustakanafas, Kampanyekan Budaya Baca di Jalanan Purworejo.

Perpustakaan-jalanan-purworejo

Tak biasanya minggu pagi saya bangun dari kasur nyaman dengan selimut hangat bekas iler semalam. Tempat tidur adalah kenyamanan yang paling hakiki di hari minggu. Tapi minggu pagi itu saya merelakan kenyamanan untuk melihat perpustakaan jalanan yang beritanya sedang malang meintang di timeline sosial media seputar Purworejo.

Atas dasar usaha mencapai titik kekinian persona hits, rasanya sangat berdosa jika melewatkan hal ini.

“Membaca adalah melawan.” Sebuah slogan yang mencolok mata terpampang di stand banner dari Pustakanafas. Dikelilingi oleh pajangan buku-buku—yang diperbolehkan untuk dibaca secara gratis—dan area mewarnai bagi anak.

Ada banyak jenis buku yang tampak di pajang. Ada serangkaian komik Conan yang tak lengkap serinya. Ada juga comic-comic lain yang tersebar diantara buku-buku lain.

Lanjutkan membaca “Pustakanafas, Kampanyekan Budaya Baca di Jalanan Purworejo.”

Turun Tangan Berbagi Inspirasi Nyata, Bukan Sekedar Kata-kata #KelasInspirasiPurworejo2.

WhatsApp Image 2017-05-02 at 8.49.54 PM

Kata-kata Pandji Pragiwaksono itu seperti racun. Sekali saja menelannya, racun itu pasti akan menjalar. Saya merasa terkutuk menjadi salah satu penggemar Pandji. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya “hampir selalu” membuat saya teracuni dengan pikirannya. Misalnya perkataannya tentang “kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk Indonesia”.

Awalnya, saya tidak pernah merasa tersentuh dengan hal-hal berbau nasionalisme semacam ini. Memikirkan Indonesia tidak ada untungnya bagi saya, lagipula saya yang kecil ini bisa memberi kontribusi apa untuk merubah Indonesia.

Pikir saya dulu, semua hal tentang nasionalisme hanyalah sebatas omong kosong belaka. Rasanya tidak akan ada orang yang sepeduli itu dengan negaranya. Lagipula saya juga belum merdeka secara ekonomi. Daripada memikirkan tentang omong kosong nasionalisme tadi, lebih baik saja kerja cari uang biar kaya.

Lanjutkan membaca “Turun Tangan Berbagi Inspirasi Nyata, Bukan Sekedar Kata-kata #KelasInspirasiPurworejo2.”

[PWRJ] LOMBA FOTO JEGLONGAN, KONTES SATIRE YANG MENYENTIL

Jeglongan Sewu Purworejo

Kalo Semarang punya Lawang Sewu, Purworejo punya “Jeglongan Sewu”.

Hidup di Purworejo memang menyenangkan. Selalu ada saja hal yang bisa di nyinyiri. Tak perlu jauh-jauh melihat ke Jakarta, Purworejo punya peradabannya sendiri yang tak kalah ciamiknya untuk dijadikan bahan adu argumen dan bahan kenyinyiran di sosial media.

Seperti senin pagi minggu lalu (13/2) dimana saya mendapati akun IG @purworejonan mengunggah foto aspal dengan tulisan “Lomba Foto Jeglogan”―tak lupa disertai logo purworejonan dan hastag #PWRjeglogan supaya anjay.

Tek ke… Ini redaksinya yang pengen cari sensasi atau memang orang-orangnya terlalu kreatif.

Dengan curiosity yang semakin meninggi, saya akhirnya iseng-iseng melihat kolom komentar karena saya yakin pasti akan ada banyak komentar lucu dari netizen yang pengen jadi center ofattention atau siapa tau ada akun dari dedek-dedek gemes yang turut berkomentar dan bisa di spik.

Dan viola, akhirnya saya menemukan harta karun. Akun @ganjar_pranowo―yang sama-sama kita tau bahwa beliau adalah Gubernur Jawa Tengah yang asli Purworejo―turut berkomentar di postingan ini.

Lanjutkan membaca “[PWRJ] LOMBA FOTO JEGLONGAN, KONTES SATIRE YANG MENYENTIL”

Membicarakan Tentang Music #30 DaysMusicChallenge

Music-And-Nature-HD-Wallpaper

Seperti M150 atau Tebs yang sering digunakan sebagai pelengkap oplosan supaya lebih nikmat, musik juga selalu menjadi pelengkap untuk saya mengkonsumsi oksigen untuk hidup. Ya, setidaknya dengan musik, hidup jadi tidak sekedar hidup. Biar ada rasa yang bisa dinikmati, jadi tidak pait-pait amat.

Setiap harinya saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan headset tersumpal di telinga untuk mendengarkan musik. Tidak peduli hal ini tidak sehat untuk telinga, yang penting ini sehat untuk mental dan jiwa saya. Jika saya tidak memiliki support perangkat cukup untuk mendengarkan musik, mungkin saya sudah gila sejak lama.

Youtube dan Spotify selama ini masih menjadi platform andalan untuk saya mendengarkan musik. Ya walaupun masih ada juga beberapa lagu bajakan yang saya simpan di Hardisk maupun Handphone jika kuota mulai sekarat. Tak apalah, kalo nanti sudah kaya, saya pasti bakal hedon langganan Spotify.

Lanjutkan membaca “Membicarakan Tentang Music #30 DaysMusicChallenge”

Selamat Tinggal Tahun 2016 yang Nganyeli (Menyebalkan).

walk away - storyofjho

Semua ada masanya. Ada masanya bersedih ada masanya gembira. Namun sepertinya tahun 2016 ini prosentasi kesedihan jauh lebih besar daripada kegembiraan yang saya rasakan. Sebentar… kata kesedihan mungkin kurang tepat, lebih tepatnya “Nganyeli”. Ya sepertinya itu jauh lebih cocok.

Menyedihkan itu kalo cewek yang kita sayang tiba-tiba meninggal karena nabrak bus tolelolet. Nah, kalo cewek kita di BBM gak pernah bales tapi masih sempet gonta-ganti PM, itu baru nganyeli.

Nganyeli ; anyel (bahasa jawa) – mengesalkan, membuat kesal, menyebalkan

Orang-orang bisa sampe heboh sama video YouTube tentang Flat Earth. Eh peli penyu, percuma sekolah bertahun-tahun kalo langsung percaya sama video kaya gitu. Sekalian aja nyebar isu kalo Bumi itu jajaran genjang.

Lanjutkan membaca “Selamat Tinggal Tahun 2016 yang Nganyeli (Menyebalkan).”

Teruntuk Sahabatku : Aku Bersyukur Kamu Ada Menjadi Bagian Dari Cerita Hidupku.

Best Friends

Apakah aku terdengar kampungan saat memanggilmu sahabat? Entahlah, yang jelas itulah kamu buatku. Mungkin lebih dari itu, tapi bagaimana lagi, dunia hanya mampu mendiskripsikanmu seperti itu. Seolah tak ada kosa kata yang tepat untuk menyebut statusmu.

Bagaimana hidupmu disana? Masihkah kamu bergelut dengan idealismemu? Percayalah, bagaimanapun kamu, aku akan tetap mendukungmu. Mungkin aku tak cukup hebat untuk membantumu, tapi semoga saja spirit yang aku bagi bisa cukup menguatkanmu.

Lanjutkan membaca “Teruntuk Sahabatku : Aku Bersyukur Kamu Ada Menjadi Bagian Dari Cerita Hidupku.”

[REVIEW] STAND UP SHOW EASTIMEWA YANG ISTIMEWA.

cats

Tahun ini, ada banyak kekecewaan yang harus saya telan. Setelah gagal menonton Show Juru Bicara milik Pandji, saya juga harus menerima kenyataan gagal lagi menonton Stand Up Gunung.

Meski tidak cukup membayar dua kekecewaan tersebut, tapi sepertinya saya cukup beruntung karena sempat untuk menonton Stand Up Comedy Show “EATIMEWA”. Pertunjukan ini cukup berhasil menjadi penghibur duka.

Sebagai salah satu penonton, saya membuat tulisan ini sebagai wujud apresiasi bahwa EASTIMEWA telah berhasil membuat saya benar-benar terpukau.

Konsep acara.

Dengan latar kos-kosan putra dengan penghuni anak-anak timur, saya cukup suka dengan konsep yang diusung. Latar belakang kisah tentang hilangnya perhiasan dari ibu kos yang diperankan oleh Ipus seperti sudah terkonsep dengan baik.

Video Syangit sebagai bapak kos dan Ipus sebagai ibu kos yang sedang tidur satu ranjang sudah membuat pecah suasana sejak show baru dibuka. Ipus sepertinya telah berhasil mengambil hati para penonton dengan perannya.

Jujur, sebenarnya saya tidak terlalu menyukai gimmick dalam pertunjukan Stand Up Comedy. Tapi tidak bisa saya pungkiri, gimmick yang ditampilkan di EASTIMEWA ini lucu banget. Nyatanya tawa penonton benar-benar pecah.

Tapi buat saya yang membuat lucu bukannya gimmcik yang disuguhkan, lebih pada celetukan-celetukan yang selalu keluar dari mulut Syangit atau Ipus.

Lanjutkan membaca “[REVIEW] STAND UP SHOW EASTIMEWA YANG ISTIMEWA.”