hormat kanan, GRAK!

Sejak sebelum bulan puasa ini, sudah rame banged di media sosial membahas masalah saling menghormati dan menghargai antar umat beragama. Munculnya statement dari pak menteri agama tentang diperbolehkannya warung makan tetap buka saat bulan puasa juga rame dibahas di media sosial. Anehnya sih, cuma gara-gara statement kaya ini ajah jadi rame banged dan jadi bahan kontroversi. Yak elah cuma masalah warung buka atau engga ajah jadi masalah. Gimana bisa saling menghormati dan menghargai antar pemeluk agama kalo cuma masalah kaya gini ajah dibesar-besarkan.

Sebelum saya membahas hal ini lebih jauh, saya mau menyebutkan latar belakang saya. Saya adalah seorang Kristen yang tinggal ditempat dengan mayoritas masyarakatnya adalah Islam. Kehidupan saya di masyarakat saya baik-baik saja, gak ada masalah apa-apa. Saya biasa ikut Halal Bihalal saat Lebaran, keliling ke rumah warga saling silahturahmi, bahkan saat Natal masih ada yang mau datang kerumah untuk menyalami atau sekedar silaturahmi. Tidak ada pembedaan hak dilingkungan saya, mau agamanya apapu itu punya hak yang sama dan perlakuan yang sama. Saya juga seorang mahasiswa. Saya sering nongkrong juga seperti anak muda pada umumnya dan biasanya juga nongkrong dengan anak-anak yang beragama Islam. Buat saya itu bukan masalah, kami becanda ngobrol dan sharing secara wajar dan tanpa ada masalah apa-apa mengenai perbedaan agama kami, cara ibadah kami, dan apapun keyakinan kami.

Mengetahui isu saling menghormati dan menghargai antar umat beragama ini mencuat lagi, saya juga mau ikutan nimbrung memberikan pendapat.

Minor dan Mayor

Saya pernah melihat seorang Pandji Pragiwaksono Stand Up, dan dalam materi stand up nya dia pernah menyampaikan bahwa, kenapa seorang/sekelompok orang berani melakukan tindakan anarki dengan membawa nama agama karena mereka belum pernah merasa menjadi minoritas. Karena mereka merasa mayoritas ajah mereka berani, coba kelompok yang anarkis ini ditaruh ditempat dimana mereka adalah minoritas disitu, mana berani.

Memang menjadi mayoritas itu seolah-olah kita sudah menang banyak, karena mayoritas yah apa-apa harus nurut sama mayoritas, kepentingan mayoritas ya harus dihormati, harus didahulukan. Lha padahal ada pepatah yang menyatakan “Utamakan Selamat” bukannya “Utamakan Mayoritas”. Bagaimana bisa saling meghormati dan saling menghargai kalo masih ada ajah sekelompok orang yang masih mau menang sendiri. Bos, kita sama-sama warga negara Indonesia lho, kita punya hak yang sama dan kewajiban yang sama juga lho. Nah kalo nuntut haknya didahulukan, udah memenuhi kewajibannya belum? udah bayar pajak belum? gini-gini saya bayar pajak juga lho buat bisnis saya, saya Kristen lho, minoritas lho, saya menjalankan kewajiban saya lho, nah hak saya gimana nih kabarnya?

Udahlah gak usah mempermasalahkan siapa yang minoritas, siapa yang mayoritas. Daripada mempermasalhkan mayor minor di kalangan penganut agama mending belajar mayor minor di musik. Malah lebih barokah, bisa belajar musik nanti buat menggaet gebetan baru.

Saling…

Saling adalah sebuah tindakan yang dilakukan oleh semua pihak terkait, bukan hanya dari satu pihak saja. Contohnya : “Budi dan Sinta saling berbicara” – Dari sini bisa disimpulkan Budi berbicara pada Sinta dan Sinta juga berbicara pada Budi membahas satu topik yang disepakati bersama. Ini baru namanya saling. Berbeda kalo cuma Budi yang berbicara pada Santi, sedangkan Santi sedang asik sms an sama gebetannya. Nah kalo kaya gini namanya dilema. Budi berbicara pada Sinta, tapi Sinta tidak menanggapinya, kan sakit.

Nah hal ini harusnya juga berjalan buat antar umat beragama. Saling menghormati itu yah semua pihak saling menghormati, bukannya satu pihak yang memaksakan diri untuk lebih dihormati dan pihak lain dipaksa untuk lebih menghormati. Ini bukan “saling” ini namanya intimidasi. Sama kaya cewe yang maunya dingertiin tapi gak mau ngertiin. Gitu.

Kalo kesepakatan buat saling menghormati sudah terbentuk, harusnya sih semua pihak bisa sama-sama mengambil sikap yang tepat. Sebagai orang Islam yang berpuasa, karena tuntutan ibadahnya untuk tidak makan yaudah tinggal dikerjakan, udah pada gede juga, kalo udah niat puasa mah mau ada ujan daging juga gak bakal goyah. Menghormatilah buat kita yang tidak ada kewajiban berpuasa, kalo semua warung ditutup kita mau makan apa? makan ati tiap hari? bukannya kenyang malah tambah ngenest.

Sebagai orang nonmuslim juga harusnya menghormati dengan tidak menawari makanan buat yang sedang puasa, menghormatilah juga pas sahur gak usah marah-marah kalo kebangun gara-gara ada yang rame-rame, elah setahun sekali juga. Udah pada gede lah nikmati saja hubungan ini sebagai sebuah hubungan yang saling melengkapi. Ditempat saya, banyak orang-orang Islam yang masih buka warung, mereka tetap puasa, tapi dengan membuka warung mereka membantu kami yang tidak puasa untuk masih bisa makan. Saya juga punya adek (tentu saja dia juga Kristen), masih SMP, dan waktu sahur dia ikut muter-muter bangunin orang sahur sama temen-temennya. Apa ada sebuah masalah dengan kondisi seperti ini? gak tuh semuanya berjalan dengan biasa saja. Kita ini mahluk sosial yang harusnya sih bisa saling menghormati perbedaan semacam ini. Indah banged tau kalo kita bisa hidup berdampingan gini.

Semuanya harus saling lah, bukannya mengecilkan satu kelompok dengan meminta menghormati secara lebih, tapi bagaimana membangun sikap yang saling menghormati dan menghargai secara seimbang.

Menghormati Itu Sikap

Yups, menghormati itu harusnya menjadi sebuah sikap, dilakukan karena kesadaran bukannya karena paksaan. Kalo memang kamu mau menghromati ya hormatilah tanpa nggrundel. Karena ini sikap ya harusnya karena udah pada dewasa, tanpa dihimbau tanpa di paksa udah sadar buat saling menghormati. Mari sama-sama bangun lingkungan yang toleran dan saling menghormati antar umat beragama.

Selamat Berpuasa buat yang menjalankannya, sampai ketemu nanti lebaran, kita kumpul-kumpul lagi yah. Jangan lupa sangunya πŸ™‚

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s