Sumber : https://www.facebook.com/notes/penerbit-diva-press/tips-cepat-menyelesaikan-naskah/997238850317899

Saya beberapa waktu lalu sempet bersemangat banget buat bikin naskah buku. Pengen ajah gitu bisa punya buku karangan sendiri terus bisa terbit dan dinikmati banyak orang. Tapi apalah dayaku. Aku mah apa atuh, cuma pinggiran koreng. Udah berbulan-bulan naskahku gak kelar-kelar juga. Akh… syit. Mimpi hanyalah mimpi jika tidak ada eksekusi.

Nah beberapa waktu lalu, aku liat sebuah artikel nih dari Diva Press tentang Tips Cepat Menyelesaikan Naskah. Gara-gara baca artikel ini akhirnya aku bersemangat lagi nyusun naskah (jangan tanya kelarnya kapan). Buat temen-temen yang punya masalah yang sama kaya saya, nih saya bagi artikelnya.

“Ini naskah novelku sudah dua kali lebaran haji kok nggak kelar-kelar sih?”

“Dih, nulis cerpen 10 halaman saja sebulan kok nggak rampung. Keburu ditutup lombanya. Hiks.”

“Naskah buku TOEFL-ku ini bakalan keren banget kalau sudah jadi.”  (*Tapi itu ngomongnya 5 tahun lalu. Sampai sekarang naskahnya masih entah)

Ada yang pernah mengalami hal-hal di atas? Atau, sekarang masih mengalaminya? Mengapa rasanya sedemikian sukar untuk menyelesaikan menulis sebuah naskah (entah itu novel, cerita pendek, atau buku nonfiksi)? Ada apa dengan otakku? Kenapa sedemikian malas saya kalau sudah ‘ngadep’ laptop untuk menulis? Selalu saja ada alasan untuk tidak menulis. Ayo, di #SeninMenulis ini kita basmi bersama penyakit akut ‘malas menyelesaikan tulisan’ yang mendera banyak penulis pemula. Biar tulisanmu cepat kelar, tips-tips berikut mungkin bisa kamu coba:

Menulis Cepat

Teknik ini terbukti ampuh untuk banyak penulis yang sangat tergantung mood dalam menulis. Tekniknya adalah menulis dengan secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya pada satu waktu. Pernah kan kamu mengalami moment ketika ide sepertinya sedemikian berlimpah, atau waktu ketika semesta mendukungmu untuk menulis yg banyak. Nah, menulislah yang banyak, banyak-banyaklah menulis ketika kamu bertemu dengan momen spesial ini. Kalau ketika mood sedang baik-baiknya, gunakan semaksimal mungkin.

Selama proses #menuliscepat ini, fokuslah hanya untuk menulis dan menulis. Abaikan dulutypo, kalimat gak nyambung, tanda baca yang keliru. Teruslah menulis, jangan dipikirkan dulu tulisan itu bagus atau jelek. Fokuslah untuk segera menyelesaikan naskahmu.  Selama proses #MenulisCepat ini, prinsipnya adalah menulis sebanyak-banyaknya, sesegera mungkin untuk menyelesaikan tulisanmu. Jangan khawatir, nanti akan ada waktunya untuk editing dan baca ulang.

Abaikan dulu suara-suara miring di sekitar kamu, fokuslah untuk menuliskan dulu semua yg ada dalam pikiranmu. Tuangkan dalam kertas/wordfile. Tujuan utama dari teknik #menuliscepat ini adalah untuk “membuat ada tulisanmu, mengadakannya, membuatnya jadi eksis–entah jelek/buruk. Karena tulisan yang jelek masih bisa diperbaiki nanti, tapi tulisan yang belum ditulis (belum ada) tidak akan pernah bisa diperbaiki. Jadi, suatu ketika kamu merasa lagi bersemangat dalam menulis, maka menulislah sebanyak-banyaknya. Manfaatkan momen itu sebaik mungkin. Abaikan sejenak aturan kepenulisan, logika cerita, atau salah ketik selama proses #menuliscepat. Itu semua bisa diperbaiki lagi nanti.

Dengan teknik #MenulisCepat ini, kamu akan memiliki naskah yang sudah selesai secara kuantitas (meskipun masih mentah dari segi kualitas). Tetapi, ingat bahwa sayur yang mentah pun masih bisa dimasak menjadi sup yang lezat. Tapi kalau tidak ada sayur, apa yang mau dimasak? Sama spt naskah, bahwa sebuah naskah yang jelek masih mungkin untuk diperbaiki. Tapi naskah yang belum ditulis, bagaimana bisa diperbaiki? Setelah naskah selesai ditulis, barulah kita bisa mulai memperbaiki, menambahi, memotong, menghapus, atau merombak.Selalu ingat petuah keren ini:

“Naskah pertama tidak dimaksudkan untuk sempurna, tetapi untuk ditulis saja (dulu).”

Teknik #menuliscepat ini sangat ampuh diterapkan bagi kalian yang mengaku masih sangat dipengaruhi oleh mood saat sedang menulis. Menulis secara rutin adalah jauh lebih baik ketimbang menulis dengan menunggu mood. Ya kalau moodnya datang tiap pekan, kalau enggak? Seorang penulis sejati harus mulai belajar untuk rutin menulis, jadi tidak hanya menunggu mood datang. Emang mood ini rumahnya mana sih?

Membuat outline atau kisi-kisi atau kerangka karangan 

Mengapa kita sering berhenti menulis di tengah jalan? Mungkin, kamu memang benar-benar bingung mau menulis apa lagi. Macet menulis ini karena ketiadaan panduan selama proses menulis. Jadi, kalau tidak melebar ke mana-mana, tulisanmu entah mau kemana. Sama seperti jalan-jalan ke tempat asing tanpa peta atau panduan perjalanan. Ini mau ke mana juga bingung kan? Karena itulah gunanya outline/kisi-kisi/kerangka karangan. Ia ada untuk memandumu dalam proses menyelesaikan tulisan. Dengan outline/kerangka karangan, kita bisa melihat garis besar dari seluruh naskah yang sedang kita tulis. Habis ini mau kemana (nulis apa), berbuat apa, bagaimana endingnya, sama siapa, trus bagaimana. Ini semua akan lebih mudah jika ada outline.

Menulis itu memang baiknya mengalir, tapi mengalir yang baik menuju suatu tujuan yang jelas: yakni selesainya naskahmu. Sama seperti air, air yang baik mengalir menuju ending-nya di samudra, sementara air yg tersesat mandek di telaga kecil dan tak kemana-mana. Begitu juga tulisanmu, kalau ada outline, kamu bisa dipandu menuju akhir naskahmu. Tapi kalau tidak ada, ya mentok di situ-situ aja. Suatu saat kamu bingung mau nulis apa lagi, kamu tinggal buka outline kamu. Dari situ, kamu bisa fokus menulis bab/kisah berikutnya. Outline/keranga karangan juga bermanfaat membuat proses menulis menjadi lebih fokus, tidak meluber ke mana-mana. Misalnya kamu menulis tentang cara beternak itik, maka contoh outline-nya bisa seperti ini:

 

a. Mengenal Itik

b. Jenis-jenis Itik

c. Memilih benih

d. Penetasan dan Pembesaran

e. Panen dan Penjualan

 

Lebih enak kan ditulisnya kalau ada urut-urutan begitu. Dengan kerangka tulisan itu, kamu tidak akan nyasar menulis tentang ‘kisah itik buruk rupa’ karya Andersen misalnya, karena memang tidak terkait. Jadi, jangan malas membuat outline. Sungguh, ia akan sangat membantumu, menjadi pemandu ketika engkau tersesat selama proses menulis.

Perkaya isi kepala 

Perbanyak membaca, mengamati, menyimak, jalan-jalan, merenung, dan lain-lain. Intinya, lakukanlah riset sebelum menulis. Ketika kita macet menulis, mungkin saat itu kita memang sedang tidak tahu harus menulis apa lagi. Kurangnya mencari informasi (lewat membaca atau pun googling) membuat otak kita ‘kering’ sehingga tulisan pun macet.

Pernahkan kita berpikir demikian: Pikiran tidak lagi mampu mengeluarkan ide-ide karena kamu jarang memberinya makanan yang sehat untuk pikiran. bingung mau menulis apa lagi bisa jadi karena memang pikiran kita kehabisan bahan buat menulis. Tambahin dong makanya. Lalu, apa saja makanan yang sehat buat pikiran: membaca tulisan yang bagus, melakukan sesuatu yg baru, berolah raga, tertawa, dan masih banyak lagi.

“Kemampuan menulisku semakin meningkat seiring dengan semakin seringnya aku menulis dan membaca tulisan-tulisan yang bagus.” (Dick Schaap)

Sebuah tulisan yang baik (entah fiksi atau nonfiksi) selalu berupaya menghadirkan informasi yang tepat bagi para pembacanya. Informasi yang tepat ini hadir ketika penulis tidak malas untuk melakukan riset (entah riset pustaka atau riset langsung) sebelum menulis. Jadi, untuk menghasilkan tulisan yang baik, maka penulis juga harus memberi makan pikirannya dengan tulisan-tulisan yang baik pula. Karena apa yang kita asup menentukan apa yang akan kita hasilkan. Tulisan yang baik berasal dari pembacaan tulisan-tulisan yang baik juga. Jangan sampai pembaca mengeluhkan tulisan kita yang dinilai ‘menyesatkan’ hanya karena kita malas riset atau cek ulang. Apalagi, di zaman internet ini, riset mudah sekali dilakukan. Tinggal buka Internet dan hampir semua jawaban pertanyaanmu ada di sana. Sudah bukan saatnya lagi penulis malas riset. Penulis yang malas riset siap-siap aja diomongin di belakang sama kaum editor. #serem

“Kelengkapan informasi adalah prinsip penting bagi setiap tulisan yang anda kerjakan, entah itu fiksi atau non-fiksi.” (AS. Laksana)


Nah silahkan dibaca, dipahami dan diterapkan. Semoga membantu.

Artikel ini berasal dari Catatan Diva Press. Artikelnya saya salin tanpa saya edit.

 

Keep Writing, Keep Inspiring

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Tips Cepat Menyelesaikan Naskah (Ala Diva Press)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s