Sumber : Pixabay

Entah sudah berapa lama sejak postingan terakhir blog ini dibuat. Lagi pula entah blog ini ada yang baca atau engga. Tapi bagaimanapun juga, blog ini harus tetap ada sebagai bentuk komitmenku untuk berkarya.

Entah sudah berapa lama, sejak hidupku diguncang habis-habisan. Kuliah harus stop gara-gara gak ada biaya, nyoba kerja, eh bayarannya cuma cukup buat beli pulsa. Dalam kondisi kaya gini yang ada dipikiran cuma “Gimana aku bisa menghasilkan uang buat makan.”

Saat kalian yang bekerja sangat mendambakan libur panjang, percayalah aku sudah bosan libur terlalu panjang. Dalam masa-masa selo, aku cuma bisa nulis di blog, sampai akhirnya wovgo.com tertarik memperkerjakanku sebagai seorang penulis konten dan yah dari situlah aku bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walaupun aku sudah tidak lagi menjadi bagian dari wovgo.com, tapi wovgo tetap menjadi bagian dari diriku yang gak akan pernah terpisahkan, dia ada dalam bagian perjalanan hidup yang tidak akan aku ingkari dan orang-orang didalamnya juga akan tetap menjadi keluargaku.

Sejak saat keluar dari wovgo, aku mulai merintis karir sebagai penulis konten. Yah walaupun aku masih ragu menyebut diri sebagai penulis. Kenapa? Ada satu hal yang menamparku.

Aku tau panggilanku bukanlah murni sebagai seorang penulis, tapi sebagai “praktisi media”. Aku terpanggil untuk membangun sebuh media yang positif. Dan untuk memenuhi panggilan itu, otomatis aku harus bisa memenuhi standar kapasitas seorang praktisi media (konteksnya media online) yaitu ngerti bagaimana caranya membangun platform media, bagaimana caranya membangun brand dan memarketingkan media tersebut, dan yang tak kalah penting adalah membuat konten untuk media itu.

Aku sedang dalam tahap belajar membuat konten, dan salah satu konten yang aku pelajari adalah konten tulisan, yang otomatis aku harus menulis.

Saat sebelum terjun dalam dunia profesional kerja, aku begitu menikmati aktifitas menulisku. Menulis semauku, berharap suatu saat bisa mendirikan mediaku sendiri (aku bahkan sudah punya nama untuk mediaku kelak), yah aku menulis dengan segudang mimpi yang begitu gregetan untuk segera diwujudkan.

Sampai akhirnya aku secara profesional (yah walau secara personal, belum layak disebut profesional juga) masuk dalam dunia kerja dan bekerja sebagai penulis konten, rasanya ada begitu banyak pressure yang terus menahanku.
Aku yang dulunya bisa menulis sambil membayangkan diriku dengan segudang mimpi, tapi sekarang aku sudah dipaksa untuk memenuhi standar oprasional seorang penulis, karena bagaimanapun aku sudah masuk dalam area profesional (so aku harus jadi profesional juga).

Sumber : smdahman.com

Gambar diatas begitu mengganggu ku. Entah ini hanya sebuah lelucon, tapi kenyataannya yah memang seperti ini. Aku merasa belum pantas menyandang gelar sebagai seorang penulis. Aku belum bisa riset dengan tepat, aku belum bisa menghasilkan teori dari setiap hasil riset yang kudapat, dan kosakata yang aku gunakan dalam tulisanku masih cetek banget (Rasanya aku pengen menelan kamus besar bahasa Indonesia biar kosa kata yang aku pake dalam tulisanku bisa sedikit berwarna).

Aku tau betul, aku gak pengen disebut penulis, tapi gimanapun juga kerjaanku adalah menulis. Jadi mau tidak mau, aku harus bisa memenuhi standar kelayakan untuk bisa disebut penulis secara profesional kerja.

Aku sadar betul, untuk menjadi praktisi media yang profesional, aku harus lebih dulu bisa menjadi pembuat konten yang profesional. Sekarang aku masih butuh banyak waktu untuk belajar, sedangkan disisi lain aku pun butuh uang dan sudah dituntut untuk mapan. Jika aku fokus belajar dan tidak memenuhi target tulisan harian, otomatis bayaranku bakal berkurang.

Huft. Aku sudah 22 tahun, dan aku baru saja memulai melangkah, apakah aku terlambat.

Aku tau ini bukan masalah uang. Tapi gimanapun juga, uang menjadi entitas yang tidak bisa aku singkirkan.
Yang aku bisa lakukan sekarang hanya “tetap menulis”, walaupun aku belum layak disebut penulis setidaknya aku tetap menulis. Karena bagaimanapun juga, penulis yang tidak menulis sama halnya seperti mayat hidup. Dan aku percaya, perjuanganku dalam belajar ini tidak akan sia-sia.

Sudah lama aku absen ngeblog, mungkin ini bakal menjadi langkah awalku kembali kedunia per bloggeran. Di blog ini aku bakal belajar berpikir secara explicit dan secara bertahap meningkatkan kualitas tulisanku. Mungkin blog ini akan menjadi semakin tidak menyenangkan. Tapi ya namanya juga personal blog, sudah selayaknya jika itu menjadi sangat personal.

So, see ya di berbagai sharing selanjutnya.

NB: Aku menghabiskan waktuku 3 tahun di SMK untuk belajar otomotif, aku menghabiskan waktuku 3 tahun di perkuliahan untuk belajar pemrograman, dan ilmu-ilmu praktis di kejuruan yang aku ambil itu tidak ada yang nempel satupun. Itulah mengapa aku merasa terlambat mempelajari tentang dunia permediaan dimana didalamnya aku harus belajar permarketingan, perkontenan, perbrandingan, dan per per yang lain. Karena seolah-olah 6 tahun hidupku sia-sia untuk mempelajari hal yang tidak akan aku hidupi.

Iklan

4 tanggapan untuk “Layakah Disebut Penulis (Sebuah Perenungan – Back To Blogging)

  1. Udah beruntung masnya udah punya pengalaman jadi penulis konten. Lha saya cuma freelance mas, jarang dapat order. Padahal pingin sekali dapat job dari media2 terkenal buat beanding diri.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s