1462634725373 (1)

Sudah satu bulan sejak update terakhir blog ku, dan aku masih belum yakin mau menulis apa lagi untuk menghidupkan blog ini. Menjadi pegawai disebuah kantor memang cukup menyita waktuku. Aku harus fokus di pekerjaan utamaku dan sementara harus mengesampingkan ego ku untuk berkarya. Sebenarnya kerjaannku sama-sama nulis juga sih (aku menulis di compusiciannews.com), i really enjoy my job. Tapi gimanapun juga kerja tetaplah kerja, disitu aku harus mengikuti standar dan aturan perusahaan. Aku benar-benar kangen bisa menulis sesuatu secara subyektif.

Janjiku pada diriku sendiri adalah setiap minggu aku akan rutin mengupdate blog ini sebagai pelampiasan ide dan pikiranku. Tapi apa daya, akhirnya jadi wacana dan baru bulan ini bisa update lagi. Tapi tak apalah, semuanya baik di waktu yang tepat. Seperti aku yang baru bisa menulis sekarang, mungkin inilah waktu yang paling tepat buatku.

Anyway, aku juga sudah lama banget gak berpetualang dan gak menuliskan kisah petualanganku. Terakhir kali aku mengisahkan petualanganku,  aku menulisnya di artikel “Ngetrip Biar Hidup Lebih Maximal“. Dan ini aku tulis tahun lalu. Derrrr !!!

Aku selalu menikmati perjalananku menembus alam. Bukan karena mau sok-sok an jadi anak hits atau ngikutin tren ngetrip, tapi aku selalu mendapat sesuatu yang baru dari setiap perjalanan itu.

Tahun lalu untuk pertama kalinya aku mendaki gunung Andong di Magelang, dan tahun ini aku berkesempatan untuk mendaki gunung Prau di Dieng.

Persahabatan Itu Mengenai Berjuang Bersama

1462960719820

Sebenarnya semuanya biasa saja, tidak ada yang spesial. Bahkan sama seperti sebelum-sebelumnya, kita selalu telat dari perencanaan awal. Janjian berangkat jam 8 pagi, baru berangkat jam 11 siang. Demi apa coba. Tapi semuanya tetaplah menyenangkan.

Selama perjalanan, kami dipaksa untuk menembus hujan. Perjalanan pendakian juga penuh dengan halangan. Mulai dari yang kakinya gak kuat, dan setiap 5 langkah harus berhenti, sampai yang tiba-tiba nafasnya sesak. Demi apa coba, niatnya mau seneng-seneng malah diperhadapkan dengan hal-hal kaya gini.

Disatu sisi egoku waktu itu bergejolak. Tapi disisi lain aku merasa bahagia karena aku berjalan dengan orang-orang yang bisa saling menopang satu sama lain. Dalam pendakian itu kami membagi menjadi dua team, satu team di depan untuk mencari tempat camp dan yang dibelakang menemani teman-teman yang gak kuat.

Selama perjalanan itu aku berfikir, kenapa kita rela melakukan hal ini. Kita mendaki kan niatnya pengen seneng-seneng, tapi saat ada kawan yang menghambat perjalanan kami, bukannya kami memaksa dirinya menyerah, kami malah terus mendorongnya berusaha membantunya untuk bisa sama-sama sampai di atas. Satu hal yang aku sadari, ya inilah persabahatan. Sahabat itu saling menopang, saling mendorong, saling menyemangati dan akan terus berjuang bersama.

Aku mungkin belum lama mengenal teman-temanku ini, tapi aku bahagia karena aku dipertemukan dengan orang-orang yang siap saling mendorong satu sama lain apapun keadaannya.

Perjalanan Ini Bukan Mengenai Mengalahkan Alam, Tapi Mengalahkan Diriku Sendiri

cats

Semasa kuliah aku mempunyai kawan (Sebut saja namanya Doger). Saat itu aku menganggap aneh hobby nya yang sering mendaki. Hobby nya itu sudah sangat mengganggu kuliahnya, tapi dia begitu menekuninya, bahkan sekarang dia bisa hidup dari hobbynya tersebut. Dan sekarang setelah aku dalam posisi ini, aku mulai mengerti kenapa dia melakukan hal itu. Dia sedang menjadi dirinya sendiri, bukan berusaha menjadi sama dengan orang lain.

Hal itulah yang sedang aku geluti selama ini. Aku selalu merasa iri dengan posisi orang lain. Aku selalu berusaha menjadi lebih dari mereka, selalu berusaha menyaingi mereka. Mugkin itu terlihat benar, padahal semua itu salah. Apa pentingnya menjadi lebih baik dari orang lain dalam satu bidang yang membuatku menjadi orang lain, bukan diriku sendiri.

Perjalananku mendaki inilah yang membuatku sadar akan satu hal, aku bukan sedang mengalahkan gunung, tapi aku sedang mengalahkan diriku sendiri. Berjuang dengan segala kelemahanku, berjuang dengan segala keterbatasanku, berusaha menerimanya dan kekuatan yang aku punya, aku terus berjalan mencapai puncaknya.

***

Aku yang egois, aku yang mengingkari diriku sendiri, seketika dikalahkan oleh gunung Prau. Aku bersyukur pernah menempuh perjalanan ini. Terima kasih untuk kalian, kawan-kawan yang sudah mau saling menopang untuk bisa sama-sama menuju puncak dan pulang dengan selamat. Terima kasih untuk Tuhan yang sudah memberiku satu kesempatan untuk bisa menjalani hidup ini dengan begitu luar biasanya.

Aku akan berusaha merekam setiap cerita luar biasa ini dalam tulisan-tulisan semacam ini.

Tulisan edisi kali ini, semi curhat. Tapi masa bodoh lah. Namanya juga personal blog. I’ll keep it personal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s