Sumber : semarangdaily.com

Saya selalu bertanya-tanya, mengapa ada begitu banyak orang yang rela keluar dari kenyamanannya dan memperjuangkan sesuatu yang notabene perjuangan itu tidak serta merta dihargai semua orang.

Widji Thukul, Munir, dan mungkin masih banyak lagi tokoh pejuang HAM yang rela kehilangan nyawanya. Memang ada banyak orang yang akhirnya ikut kedalam arus perjuangan seperti mereka, tapi tidak sedikit juga orang-orang yang memandang skeptis hal ini.

Saya lahir di tahun ’93. Masih terlalu muda untuk saya mengerti berbagai kejadian yang terjadi pada jaman kekuasaan ORBA. Tidak hanya berhenti di layer “belum mengerti”, bahkan selama 19 tahun saya hidup, saya diperhadapkan dengan tembok “mending tidak usah mengerti”.

Setiap hari saya selalu melihat sticker “Pie Kabare Le, Penak Jamanku To” di kaca mobil Bapak. Bapak saya selalu berkata bahwa jaman kepemimpinan Bapak Pembangunan, rakyat benar-benar makmur. Semua hal serba masih murah. Tidak seperti sekarang ini.

Saya selalu bertanya dalam benak, sebenarnya apakah yang dulu sempat terjadi. Kenapa orang-orang terpecah dalam dua kubu. Mereka yang begitu terbuai kenangan jaman ORBA dengan kemakmurannya, dan mereka yang berjuang mati-matian jangan sampai jaman ini terualang lagi.

Sebenarnya pihak mana yang benar? Apakah saya harus memihak? Atau saya hanya harus berdiri di zona abu-abu dan tidak mau tau dengan semua kebenarannya?

Mengenal kebenaran dari perkataan mereka yang masih berjuang.

Keresahan saya ini muncul di usia saya yang ke 19 tahun. Masuk dalam dunia perkuliahan dengan akses informasi yang bergitu membludak. Obrolan warung kopi, diskusi di kelas perkulihan, hingga berbagai penemuan dalam kegiatan berselancar di internet.

Saya merasa begitu buta selama ini. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dan apa yang dulu pernah terjadi. Mengapa ada orang-orang yang mati-matian memperjuangkan hal yang disebut HAM.

Saya yang dulunya tidak mau peduli, akhirnya ikut masuk dalam pusaran ini. Rasa penasaran yang akhirya membawa saya masuk dalam berbagai pencarian.

Mungkin saya bukan seorang intelek yang bisa mencerna berbagai informasi ini dengan tepat. Tapi saya tidak terlalu bodoh untuk mengerti pihak mana yang penjahat.

Para pejuang yang selalu berusaha memperkatakan kebenaran inilah yang mulai sedikit menyadarkan saya dan membukakan mata saya yang selama ini buta.

Mereka yang tidak pernah berhenti bersuara, benar-benar ingin menyebarkan berita kebenaran ini keseluruh pelosok negeri. Sejarah yang ditulis oleh mereka yang merasa sudah menang, selalu berusaha diluruskan oleh mereka yang berjuang mempertahankan kebenaran.

Teriakan mereka dalam keheningan inilah yang membawa saya dalam sebuah keputusan keberpihakan. Saya akan ikut dalam perjuangan.

Apa yang bisa saya lakukan dalam perjuangan ini?

Akan terdengar begitu konyol mungkin, tapi ya, saya mau ikut berjuang. Tapi apa yang bisa saya kontribusikan? Saya bukanlah orang yang memiliki power, bahkan saya hanyalah bagian dari para jelata yang masih mengurusi urusan kemakmuran dan kesejahteraan.

Uang dan kuasa saya tidak punya, tapi saya punya sedikit suara. Ya, SUARA.

Pemikiran saya diubahkan oleh para pejuang yang terus bersuara. Mereka tidak henti-hentinya bersuara tentang hal ini. Bahwa perjuangan melawan HAM adalah perjuangan untuk hidup.

Dan dibagian inilah saya dan anda bisa turut serta mengkontribusikan sesuatu untuk perjuangan ini. Terus perkatakan kebenaran ini kepada keluarga, teman, sahabat, bahkan anak atau cucu kita.

Suara kita mungkin tidak akan sepowerfull suara mereka yang berkuasa, tapi setidaknya kita mau bersuara. Suara kita ini adalah kontribusi nyata dalam perjuangan ini.

Negara ini masih terlalu muda. Perjuangan ini masih sangat panjang. Memberesi masalah HAM sekarang, bisa jadi menimbulkan perang saudara. Tapi dengan suara yang kita dengungkan dari satu generasi ke generasi seterusnya yang akan menjadikan kebenaran akan terus hidup.

Jangan pernah berhenti memperkatakan kebenaran. Suarakan, bagikan berita kebenaran itu. Jangan biarkan kebenaran itu dibungkam dan tersembunyikan. Suara kita mungkin hanya akan mempengaruhi beberapa orang. Tapi dari beberapa orang yang sudah terpengaruh ini akan bisa mempengaruhi beberapa orang lagi.

Saya memang orang biasa, tapi saya mau mengambil tindakan dan saya percaya, hal luar biasa akan terjadi. Bahkan mereka yang memulai gerakan inipun hanyalah orang-orang biasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s