“Mas, terus besok yang ambil pengumuman kelulusan kamu siapa? Bapak udah terlanjur nerima job dalang manten.”

“Yaudah nanti aku dateng sendiri ajah gak papa pak.”

“Emang boleh kalo gak sama wali? Apa nanti bapak jam 8 tak kesekolahan dulu nyempetin ngambil dulu?”

“Gak usah pak gak papa. Boleh lah, nanti aku yang jelasin ke wali kelas.”

Mataku berkaca-kaca karena obrolan singkat malam ini. Hal seperti ini bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya, untuk beberapa kali, aku harus mengambil rapotku sendiri. Bahkan di hari kelulusanpun, aku harus kembali mengambil pengumuman sendiri.

Yah, bagaimana lagi, kerjaan Bapakku memang tidak menentu jadwalnya. Kalo Bapakku tidak ada job dalang manten atau MC orgen tunggal, keluarga kami bakalan gak makan. Kadang aku merasa Bapak tidak memperhatikan diriku, tapi ya sudahlah.

**

Pagi itu aku berangkat sendiri mengambil pengumuman kelulusanku di SMA. Teman-temanku sudah datang bersama orang tua mereka. Acara ini memang disetting orang tua dan anak untuk duduk bersebelahan.

Aku agak kurang bersemangat hari itu, aku berasa jadi alien karena harus datang sendiri. Aku menghampiri meja yang ditunggui oleh 2 orang adek kelasku.

“Mas Jho ngisi absen dulu mas. Lho kok sendiri mas, walinya dimana?” Seorang yang menjaga meja absen ini menatap kebingungan.

“Aku sendiri.” Aku langsung menandatangani absen dan langsung masuk kedalam aula.

Aku mengambil tempat duduk paling belakang. Entahlah, aku benar-benar tidak besemangat. Aku bahkan belum menyapa temanku, satupun.

Tiba-tiba ada yang menepuk punggungku. “Eh Jhosef kok sendirian, walinya gak ikut?” Bu Nurul, wali kelasku mengagetkanku. Dia kemudian duduk di bangku sebelahku.

“Iyah buk. Ini bapak lagi ada kerjaan, jadi gak bisa dateng buk.” Aku berusaha memberikan senyum termanis untuk wali kelasku ini, walaupun aku benar-benar sedang tidak mood.

“Owalah, yasudah ibu temenin ya. Ibu yang gantiin jadi wali. Hehehe.” Bu Nurul mengelus pundaku.

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya tersenyum kepadanya. Masa iya aku menolak dan mengusirnya.

Acara demi acara telah berlangsung. Akhirnya sampai kepada pengumuman kelulusan. Saat itu Kepala sekolah menyampaikan bahwa SMAku lulus 100%. Kemudian pengumuman ini dilanjutkan dengan pembacaan 10 besar paralel disekolahku.

Waka kesiswaan membacakan pengumuman ini. Sudah sejak awal aku tidak menggubris acara siang ini. Aku hanya melamun masuk dalam dimensi pikiranku sendiri. Sampai akhirnya lamunanku dihentikan oleh tepukan dari Bu Nurul.

“Eh, itu kamu rangking satu paralel. Wah selamat yah. Ibu bangga jadi walikelas kamu.” Bu Nurul dengan girang langsung memeluku.

“Hehe iya buk. Terima kasih juga buat bimbingannya.”

Karena juara satu paralel, aku kemudian diminta naik ke panggung dan diberi hadiah. Aku tidak bisa menahannya lagi. Mataku bukan lagi berkaca-kaca, lelehan air mata mulai menetes. Orang-orang mungkin melihatnya sebagai tangis haru. Tapi aku benar-benar sedih kali itu, harusnya Bapaku yang mendampingiku berdiri di atas panggung ini, bukannya wali kelasku.

Selepas acara ini aku langsung mendatangi guru-guru dan mengucapkan terima kasih. Aku juga menyapa teman-temanku dan menyelamati kelulusan mereka. Aku tak banyak ngobrol. Aku sudah mulai malas dan bergegas pulang. Ajakan seorang teman yang mau mentraktir makan saja tidak aku terima.

Bapaku baru pulang sore harinya. Sesampainya dirumah, aku membuatkannya teh dan menunjukan hasil pengumuman tadi. “Ini pengumumannya.” Aku memberikan dua lembar kertas berisi pernyataan kelulusan dan daftar nilai.

“Yaudah kalo lulus. Ranking berapa?” Bapaku masih mengamati lembaran kertas itu.

“Puji Tuhan rangking satu.”

“Hmm. Yaudah.” Dia mengembalikan kertas itu padaku dan berlalu.

Aku langsung masuk kekamar dan langsung merebahkan tubuhku. Aku melihat ke langit-langit kamarku dengan berbagai pikiran yang berkecamuk dikepalaku.

Apa aku tidak cukup membanggakan dengan pencapaian ini. Sedikit ucapan selamat saja tidak keluar dari mulutnya. Ingin sekali rasanya aku berteriak ke muka Bapakku, tentang kekecewaan dan semua pikiran yang berkecamuk dipikiranku. Tapi mana mungkin, bisa-bisa aku diusir dan jadi gelandangan.

***

(3 Tahun Kemudian.)

“Lho, lha kamu itu kok bisa-bisanya berhenti kuliah itu gimana?”

“Aku kehabisan dana buat biaya kuliah pak. Mau kerja dulu, nanti kalo udah cukup uangnya mau buat lanjutin lagi.”

“Bapak bilang dulu apa. Mendingan kamu dulu langsung kerja sama Pak Dhe mu di Astra. Sekarang udah kuliah ngabisin biaya, engga lulus pula.”

“Pak, aku punya mimpi…”

Bapak langsung memotong omonganku. “Mimpi? Kamu itu mbok gak usah sok punya mimpi. Mimpi ya cuma mimpi. Realitanya kamu itu butuh duit buat hidup. Kuliah juga kan ujung-ujungnya juga buat nyari duit. Lha ini kamu malah ngabis-ngabisin duit.”

Mukaku sudah mulai memerah karena terlalu lama menahan emosi. Aku masih berusaha mengontrolnya. Tapi sepertinya emosiku sudah ada diujung tanduk dan tidak mau dikendalikan lagi.

Dengan nada biasa (tidak menghentak) aku mulai menjawab Bapakku. “Pak aku punya jalan hidupku sendiri. Kalo Bapak gak setuju, ya sudah. Tapi aku punya hak atas apapun pilihan untuku hidup. Aku pengen jadi penulis, dan itu pilihanku.”

***

(4 Tahun Kemudian)

Sejak perdebatanku dengan Bapak, komunikasiku dengan bapak menjadi tidak baik. Aku hanya pulang saat libur lebaran dan Natal, padahal jarak Jogja dan tempat tinggalku hanya 2 jam perjalanan menggunakan motor.

Aku juga tidak pernah lagi berhubungan dengan bapak walau hanya lewat telepon. Sama sekali. Hanya ibuku (yang sudah dirumah sejak berhenti menjadi TKW) yang sering menelponku setiap seminggu sekali.

Setelah aku pergi dari rumah, aku kemudian kerja disebuah media online yang sedang berkembang di Jogja. Selama setahun menjadi content writer, aku akhirnya memiliki cukup uang untuk melanjutkan kuliah. Aku mengambil kelas sore sehingga kuliah dan pekerjaanku bisa berjalan beriringan.

Saat itu sedang libur lebaran. Akhirnya aku pulang.

Saudaraku yang merantau di kota semuanya mudik. Seluruh keluarga besar kemudian berkumpul di rumah simbahku, termasuk keluargaku. Banyak obrolan yang terjadi malam itu. Aku sama sekali tidak menikmati moment itu. Seluruh anggota keluarga seolah menjadi musuhku malam itu.

Bahkan simbahku menyindirku sebagai satu-satunya cucu yang sudah kerja dan gak sukses sama sekali. Dan saudara-saudaraku yang lain juga ikut mengamininya. Sampai akhirnya karena kupingku sudah terlalu panas, aku meninggalkan obrolan keluarga itu dan memilih duduk sendirian di teras. ‘Hah, kenapa keluargaku sejahat ini,’ pikirku.

Saat aku duduk diteras sendirian, tiba-tiba aku dikagetkan dengan tepokan di punggungku.

“Hei, ngapain sendirian di teras.” Bapakku mengambil posisi duduk disebelahku.

Aku menatapnya sejenak. Agak kaget memang, kemudian aku kembali melihat ke langit. “Gak papa pak, panas didalem. Nyari angin ajah.”

Kami berdua duduk cukup lama dengan saling diam. Sampai akhirnya Bapak berlalu begitu saja masuk kedalam dan keluar lagi membawa kumpulan kertas yang sudah terbendel rapi.

Bapakku menunjukan kumpulan kertas itu kepadaku. “Ini tulisan kamu yang ada di website itu. Bapak seneng bacanya, ulasan kamu bagus. Adek yang ngasih tunjuk Bapak waktu itu, terus Bapak minta dia ngeprint semua.”

Aku menerima kumpulan kertas itu, membolak-balik halamannya sebentar dan mengembalikan lagi kepada Bapakku. “Buat apa di print segala pak.” Aku kembali dalam diamku menatap langit.

“Mas. Maafin Bapak.”

Aku kaget mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Bapakku. Aku yang sedari tadi tidak menatap dirinya, kemudian memberanikan diri menatapnya, tepat kearah matanya.

Bapakku mengusap matanya yang agak sedikit basah kemudian dia melihat keatas. “Bapak minta maaf, selama ini Bapak gak pernah suppot kamu. Bapak bangga sama kamu dengan segala pencapaian kamu, tapi Bapak gak tau gimana caranya mengungkapkan rasa bangga ini.” Bapak berhenti sebentar, menarik nafas panjang dan melanjutkannya lagi. “Bapak bangga sama kamu. Bapak bangga punya anak seorang pejuang. Mungkin saudara-saudara kamu yang lain kelihatan sukses dengan banyak uang. Tapi Bapak bangga ngelihat kamu yang terus berjuang buat mimpi kamu, apalagi tulisan kamu jadi pengaruh buat orang-orang yang baca.”

Bapak kemudian diam sejenak. Dia menaruh kumpulan kertas yang sedari tadi dia pegang erat-erat. Dan tanpa aba-aba, tiba-tiba dia memeluku dari samping sambil mengusap rambutku. “Maafin Bapak selama ini gak memperhatikan kamu. Bapak bangga sama kamu. Gimanapun juga, kamu tetaplah anakku.”

Hatiku tidak cukup kuat menahan perasaan haru ini. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku sedikitpun. Aku hanya bisa menangis. Yah, menangis seperti anak kecil yang ada dipelukan Bapakknya.

Malam itu seperti anugerah buatku. Aku tidak yakin selepas itu kami akan menjadi sering ngobrol. Tapi setidaknya aku tau jika Bapakku benar-benar bangga denganku. Sempat ada rasa benci muncul dari hatiku karena pikirannya yang kolot dan mencemooh mimpiku. Tapi bagaimanapun juga, dia adalah Bapakku, dan aku tidak akan pernah mampu membencinya. -YS-

Saya tidak terlalu bagus dalam penulisan cerita seperti ini, bagi temen-temen yang sudah lebih berpengalaman, tolong masukannya ya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s