cameringo_20170210_142346

Cak Dlahom, duda tua yang hidup sebatangkara dan tinggal di sebuah rumah dekat kandang kambing Pak Lurah. Cak Dlahom kerap menjadi komentator hal-hal yang berkaitan dengan substansi agama. Cak Dlahom yang dianggap gila nyatanya omongannya sering ada benarnya juga. Buku ini mengisahkan bagaimana Cak Dlahom hidup bersama para tetangganya. Bersetting di suatu desa di tanah Madura pada bulan Ramadhan, kisah-kisah di dalam buku ini menjadi suatu refleksi atau bahan perenungan dalam kita memandang dogma agama dan bagaimana kita menjalani hidup beragama dan bermasyarakat.

Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya : Kisah Suffi Dari Madura
©Rusdi Mathari

Penyunting : Prima S. Wardhani
Buku Mojok, September 2016
226 hlm.

***

Buku ini sebenarnya adalah suatu tulisan berseri yang pernah ditulis oleh Rusdi Mathari di Mojok.co (situs yang berisi penulis-penulis edan) sebagai serial Ramadhan. Sudah 2 kali Ramadhan serial ini mejeng di situs Mojok.co dan menjadi renungan atau tausiah Ramadhan.

Sebagai pembaca Mojok.co, saya sebenarnya sudah pernah membaca beberapa kisah. Tapi saya tidak begitu mengikuti serial ini karena saya Kristen, dan belum terpikir untuk pindah agama juga. Jadi rasanya saya merasa belum perlu membaca renungan tentang Ramadhan―waktu itu.

Tapi bagaimana ceritanya saya akhirnya bisa membaca buku ini? Apakah saya sudah pindah agama sekarang dan membutuhkan sedikit pencerahan, makanya saya mau membaca buku ini? Oh tentu saja tidak. Mana punya nyali saya buat pindah agama. Jangankan pindah agama, pindah haluan buat mencintai yang lain selain kamu ajah susah.

Saya mendapatkan buku ini dari kuis Buku Mojok. Meski sudah tau akan mendapatkan buku dengan bahasan religius―agama islam―, saya tetap nekat ikut kuis. Kalopun nantinya tidak saya baca, setidaknya bukunya bisa saya berikan untuk kawan yang sedang ingin berhijrah (gerakannya lagi trend nih).

Tapi ternyata karena tingkat selo  yang cukup tinggi, akhirnya saya membaca buku ini. Surprisingly, saya benar-benar terpikat dengan kisah-kisah yang dihadirkan Cak Rusdi.

Kisah tentang Cak Dlahom, Mat Piti, Romlah, Pak RT, Pak Lurah, Istri Bunali dan anaknya Sarkum, dan warga desa lainnya seperti potret yang paling mendekati dengan keadaan sosial di dekat saya. Jika kita mau membuka mata, ternyata seluruh cerita di buku ini sangat dekat dengan kita.

Kisah-kisah di buku ini menyoroti bagaimana orang-orang memandang dogma agama, bagaimana orang-orang hidup beragama, dan bagaimana mereka hidup bermasyarakat.

Pesan religiusitas yang ingin disampaikan akhirnya bisa tersampaikan dengan baik karena balutannya yang menarik. Cara Cak Dlahom berfilosofi dengan berbagai perumpamaan terasa menggelitik namun pesannya bisa tertangkap dengan baik.

Dari pengantar yang ada di buku ini, gaya berkisah Cak Rusdi seperti terinspirasi oleh Markesotnya Emha Ainun Nadjib. Tapi karena saya belum pernah baca sedikitpun tentang Markesot, buat saya hal ini cukuplah segar dan menarik.

Mungkin formula semacam ini bisa diaplikasikan untuk menulis renungan-renungan Kristen yang semakin membosankan dan terlalu serius. Ayolah, belajar agama tidak melulu harus sepaneng, saya yakin Tuhan juga hobby berkomedi. (Semoga ada pendeta, aktivis Kristen, atau penulis Kristen yang membaca ini dan tergerak membuatnya)

Kisah-kisah yang ditulis oleh Cak Rusdi banyak yang terinspirasi atau terilhami dari ulama-ulama besar seperti Cak Nun, Syekh Maulana Hizboel Wathany Ibrahim, dan tokoh ulama lain―yang tentu saja tidak saya kenali.

Membaca buku ini memberikan pengalaman yang sangat menyenangkan. Meski beberapa dogma ada yang―tentu saja―berbeda, namun ada beberapa konsep pemikiran yang bisa saya pegang akhirnya.

Cak Rusdi melalui tokoh Cak Dlahom mengajak saya untuk melihat dunia melalui sisi pandang yang lain. Melihat dari sudut-sudut yang tidak pernah saya jangkau, hingga akhirnya saya cuma bisa menganga dan berpikir “Benar juga ya!”

Buat sebagian kalian yang membaca kisah ini mungkin akan mengernyitkan dahi dan menganggap buku ini mengajarkan kesesatan. Namun sebagian dari kalian mungkin juga akan tersenyum, tertawa kecil, dan kemudian tercerahkan.

Akhirnya semua kembali pada kalian. Kalian mau menerima konsep yang disampaikan Cak Dlahom di buku ini atau tidak, itu urusan kalian.

**Saya mengucapkan terima kasih pada Buku Mojok yang sudah memberikan buku ini secara gratis pada saya sebagai hadiah kuis. Semoga orang-orang di balik Buku Mojok senantiasa diberkahi kebahagiaan dan Buku Mojok bisa lekas bersinar.


Book Quotes :

“Kamu merasa pintar, sementara bodoh saja kamu tak punya.” ―hal. 25

“Salatmu dan sebagainya adalah urusanmu dengan Allah, tapi Sarkum yang yatim dan ibunya yang kere mestinya adalah urusan kita semua.” ― hal. 116

“Kenapa yang harus dihormati hanya orang yang berhaji? Kenapa orang yang salat tidak dipanggil Pak Salat? Orang yang puasa dipanggil Pak Puasa? Orang yang berzakat Pak Zakat?” ― hal. 138

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “[REVIEW BUKU] MERASA PINTAR, BODOH SAJA TAK PUNYA – RUSDI MATHARI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s