Jeglongan Sewu Purworejo

Kalo Semarang punya Lawang Sewu, Purworejo punya “Jeglongan Sewu”.

Hidup di Purworejo memang menyenangkan. Selalu ada saja hal yang bisa di nyinyiri. Tak perlu jauh-jauh melihat ke Jakarta, Purworejo punya peradabannya sendiri yang tak kalah ciamiknya untuk dijadikan bahan adu argumen dan bahan kenyinyiran di sosial media.

Seperti senin pagi minggu lalu (13/2) dimana saya mendapati akun IG @purworejonan mengunggah foto aspal dengan tulisan “Lomba Foto Jeglogan”―tak lupa disertai logo purworejonan dan hastag #PWRjeglogan supaya anjay.

Tek ke… Ini redaksinya yang pengen cari sensasi atau memang orang-orangnya terlalu kreatif.

Dengan curiosity yang semakin meninggi, saya akhirnya iseng-iseng melihat kolom komentar karena saya yakin pasti akan ada banyak komentar lucu dari netizen yang pengen jadi center ofattention atau siapa tau ada akun dari dedek-dedek gemes yang turut berkomentar dan bisa di spik.

Dan viola, akhirnya saya menemukan harta karun. Akun @ganjar_pranowo―yang sama-sama kita tau bahwa beliau adalah Gubernur Jawa Tengah yang asli Purworejo―turut berkomentar di postingan ini.

“Lebih bagus lg klo km ikut berpartisipasi membantu pemerintah provinsi, dan menginfokan juga ke bupati. @purworejonan”

Setelahnya akun @luckykd berkomentar, “Setuju sama pak @ganjarprwnowo.”

Setelah itu sang mimin dengan begitu sopannya membalas komentar pak Ganjar.

“@ganjar_pranowo sampun pak, kami udah coba kirim email ke pemkab, belum juga direspon. Jadi saking sedihnya liat korban berjatuhan kami sentil lewat kontes satire.”

“@ganjar_pranowo dan ini salah satu cara kami menginformasikan lokasi titik-titik yang perlu dibenahi. Andai pak bupati punya sosmed mungkin lebih mudah ya buat komunikasi. Emain aja ngga dibales pak.”

Hayo, kapok mu kapan…

Saya kira akan muncul komentar-komentar penuh argumentasi di bawahnya, tapi nyatanya netizen Purworejo lebih banyak yang bermain aman. Ah, gak seru!

Sosial media memang punya power yang cukup dahsyat sebagai corong bersuara. Contohnya ya seperti yang dilakukan @purworejonan ini. Tidak hanya mewakili opini pribadi admin-admin atau redaksi dibelakangnya, saya rasa @purworejonan sudah mewakili suara sebagian orang Purworejo yang sudah mulai jenuh dengan jalan berlubang.

Akun @purworejonan dengan follower 23.8 K nya adalah lahan emas yang cukup lumayan. Dari akun ini @purworejonan bisa mendulang banyak rupiah dari iklan yang mejeng di setiap postingan.

Itu sepenuhnya memang hak mereka untuk mencari pundi-pundi rupiah dari akun ini, namun saya cukup terkesan karena orang-orang dibalik @purworejonan tak hanya sekedar memanfaatkan akun ini untuk kebutuhan komersil saja, namun mereka juga mau memposisikan diri sebagai media yang menjadi corong suara warga Purworejo.

Lomba foto jeglongan ini memang menggelitik. Sebuah konsep yang kreatif untuk menyentil pemerintah. Bahkan @purworejonan tak ingin setengah-setengah, mereka juga menjanjikan akan menyampaikan hasil foto jeglongan yang terkumpul sebagai bentuk kontribusi @purworejonan dalam membantu pemerintah daerah seperti yang diharapkan pak Gubernur Jawa Tengah.

@purworejonan semakin all out saat mereka bekerjasama dengan Ghazhaszha Motovlog untuk mendokumentasikan titik-titik jeglongan yang ada di Purworejo menggunakan media video (vlog).

Sadar tidak sadar, saat ini @purworejonan bukan lagi akun instagram semata. Akun @purworejonan sudah menjelma menjadi suatu media dengan power yang cukup besar dengan pengikut yang cukup banyak―perkara followernya organik atau tidak, saya tidak tau.

Saya rasa akun-akun lain yang berbau Purworejo tidak akan se all out ini melayangkan satire pada pemerintah melalui lomba berhadiah.

Apakah kontes satire ini mendulang banyak dukungan? Entahlah. Tapi sepertinya di dunia ini memang tidak ada yang berjalan dengan sebegitu mulusnya.

Beberapa waktu lalu saya sempat masuk sebuah diskusi. Salah seorang tokoh penting yang terlibat dalam diskusi tersebut menyayangkan saat netizen Purworejo memviralkan meme “Jeglongan Sewu”. Beliau berpendapat seharusnya orang-orang tersebut bisa berkontribusi lebih untuk memajukan Purworejo melalui bidang-bidang yang mereka geluti masing-masing.

Statement tersebut memang ada benarnya. Saya rasa apa yang sudah dilakukan @purworejonan adalah suatu bentuk kontribusi yang sudah cukup besar dalam upaya memajukan Purworejo.

Ya memang seperti itulah media, dia akan bersuara dengan satire atau kritik pada pemerintah. Lagipula memangnya masyarakat biasa punya kapasitas sebesar apa untuk membantu pemerintah dalam mengatasi masalah infrastruktur semacam ini. Apakah masyarakat harus urunan beli aspal buat nambal jalan?

Saya sangat menunggu momen dimana para follower @purworejonan akan saling berbagai foto jeglongan dan bagaimana respon pemerintah terhadap hal ini.

Semoga perkara ini benar-benar sampai ke telinga jajaran pemerintahan. Saya yakin diantara follower @purworejonan pasti ada orang-orang dari jajaran pemerintahan, dan mereka pasti melihat hal ini sebagai bentuk sindiran untuk segera melakukan perbaikan jalan.

Atau setidaknya diantara sekian follower itu pasti ada anak-anak yang orang tuanya masuk dalam jajaran pemerintahan, dan mereka bisa curhat ke orang tua mereka terkait perkara ini.

Informasinya kemungkinan besar pasti akan sampai pada jajaran pemerintahan, namun apakah perkara ini bisa menggetarkan hati para petinggi pemerintah daerah Purworejo ini? Hanya Tuhan yang tau. (JHO)

Iklan

5 tanggapan untuk “[PWRJ] LOMBA FOTO JEGLONGAN, KONTES SATIRE YANG MENYENTIL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s