Corat Coret Di Toilet

Eka Kurniawan selalu bisa menangkap pengalaman-pengalaman sosial yang dia liat atau terjadi disekitarnya dan menuangkannya dengan balutan cerita yang unik dan menarik. Memadupadankan kisah-kisah sosial ini dengan balutan fantasi maupun drama. Corat Coret di Toilet berisi cerpen-cerpen Eka Kurniawan yang dia buat dari periode 1999-2000. Setiap cerpen yang dia tulis selalu menyelipkan “keresahan” tentang suatu tatanan sosial. Setiap cerpen yang ditulis akhirnya menjadi seperti jejak sejarah. Setiap moment-moment sejarah yang pernah menimpa Indonesia, dia rekam dari sudut pandangnya menjadi suatu kisah drama kemanusiaan.

©Eka Kurniawan

PT Gramedia Pustaka Utama,

April 2014
April 2016
Juni 2016

125 hlm.


Saya belum terlalu lama menyukai dunia perbukuan. Belum banyak hal mengenai dunia perbukuan yang saya kenal. Tokoh-tokoh penulis hebat, buku-buku rekomendasi sejuta umat, saya tak begitu tau semua itu.

Saya baru suka membaca buku―lagi―setelah banyak bermunculan buku-buku yang ditulis oleh para comic. Untuk beberapa waktu buku-buku comedy yang ditulis oleh para comic ini menjadi santapan literasi yang saya rasa sudah cukup.

Beberapa buku komedi lain― bukan ditulis oleh comic―menjadi side dish, sebut saja Relationshit dan Catatan Akhir Kuliah. Gaya berkomedi yang tak jauh beda membuat saya agak jenuh.

Sampai akhirnya saya direkomendasikan untuk membaca karya Etgar Keret. Beberapa cerpennya yang saya konsumsi langsung membuat saya jatuh cinta pada gaya berkisah Etgar Keret. Saya seakan menemukan atmosfer baru dari semesta kecil perbukuan yang selama ini saya selami.

Akhirnya buku The Seven Good Year menjadi salah satu koleksi buku yang paling saya sayangi―tidak akan saya pinjamkan sama sekali.

Dari The Seven Good Year inilah saya mengenal sosok Eka Kurniawan. Eka Kurniawan memberikan kata pengantar dalam buku ini. Di situ dicantumkan bahwa Eka Kurniawan adalah Nominasi The Man Booke Internationas Prize 2016. Wong sangar iki mesti, batin saya.

Kebiasaan saya adalah selalu mencari tau langsung hal-hal yang mengganggu pikiran saya di Google, dan waktu itu saya langsung mencari tau tentang Eka Kurniawan di Google. Benar saja, Eka Kurniawan memang penulis sangar.

Buku pertama yang dia terbitkan pada tahun 2002, Cantik Itu Luka langsung memenangkan penghargaan perdana World Readers. Buku keduanya, Lelaki Harimau (2004) membuatnya masuk sebagai nominasi The Man Booker International Prize 2016. Dengan buku yang sama, Eka Kurniawan berhasil menyabet Emerging Voices 2016 di kategori fiksi.

Pada tahun 2015 Eka Kurniawan terpilih jadi salah satu Global Thinker karena perannya dalam memperkenalkan Indonesia dalam kesusastraan dunia oleh Jurnal Foreign Policy.

Di tahun yang sama  2 buku Eka Kurniawan di terjemahkan dalam bahasa Inggris yaitu Beauty is A Wound (Cantik Itu Luka) dan Man Tiger (Lelaki Harimau).

Track record ini rasanya sudah lebih dari cukup untuk menunjukan pada saya bahwa karya Eka sangat wajib untuk disantap.

Corat Coret Di Toilet

Buku Corat Coret di Toilet menjadi buku pertama yang saya pilih untuk saya baca. Benar saja, sejak cerpen pertama hingga cerpen terakhirnya, saya seperti diajak oleh Eka untuk memasuki dunianya, melihat fenomena-fenomena sosial dan drama kemanusiaan yang dia kisahkan dengan begitu luarbiasa.

Dalam buku ini terdapat 12 Cerpen. Dari 12 cerpen ini memang tidak semuanya memiliki daya pikat yang sama. Wajar saja sih menurut saya. Pasti ada karya yang memiliki dominasi lebih dibanding karya lainnya.

Tapi hampir di seluruh cerpen, Eka selalu menyelipkan suatu kritik dan isu sosial. Saya sangat mengagumi kemampuan Eka sebagai seorang observer, dia seperti bisa melihat detail-detail drama sosial dan kemudian merekamnya dalam setiap cerpen. Walaupun ada juga di beberapa cerpen isu sosialnya terkesan tempelan dan dipaksakan untuk masuk dalam plot cerita. Tapi, yasudah, itu wajar saja. Yang penting isinya bagus.

Buku ini memang terkesan ingin menunjukan bahwa berbagai masalah sosial yang terjadi di masyarakat Indonesia, tidak hanya masalah-masalah yang berkaitan dengan isu-isu besar, Eka juga mengangkat isu-isu sederhana dengan makna implisitnya.

Tak semata-mata bermuatan politik, di buku ini ada beberapa cerpen dengan premis drama yang diangkat oleh Eka. Toh nyatanya cerpen-cerpen itu tetap bagus dan tidak terasa cheesy. Siapa Kirim Aku Bunga? dan Dongeng Sebelum Bercinta adalah dua contoh cerpen dengan premis drama yang cukup keren. Ada keunikan dari tema yang diangkat, dan gaya menulis Eka dalam menyampaikan kisah juga sangat nyaman untuk dinikmati.

Semua cerpen Eka di buku ini memiliki pesan moral yang cukup mendalam. Ada yang layernya tipis, ada juga yang layernya sangat tebal dan perlu penalaran lebih supaya bisa mengerti maksudnya.

Tapi dibandingkan cerpen-cerpen Dea Anugrah di buku Bakat Menggonggong, cerpen-cerpen Eka Kurniawan di buku Corat Coret di Toilet ini rasanya masih tergolong mudah untuk dicerna pembaca dengan kadar nalar yang tidak terlalu tinggi (Kadar nalar yang masih jongkok seperti saya saja bisa masih bisa menikmati).

Dari 12 Cerpen, beberapa cerpen yang yang cukup nempel buat saya adalah Peter Pan, Corat Coret di Toilet, Hikayat Si Orang Gila, dan Kandang Babi. Sebenarnya hampir semua cerpen memiliki kesan masing-masing, namun beberapa cerpen tersebut seperti masterpiece―versi saya―di buku ini.

Keempat cepen tersebut menggambarkan kejeniusan Eka dalam merangkai cerita. Dalam dasar cerita yang sederhana, Eka bisa menghadirkan kompleksitas dan menunjukan ketidak beresan dari society ini.

Bisa membaca buku Corat Coret di Toilet adalah suatu anugrah. Segala bentuk pikiran receh di otak saya mulai sedikit terendam dengan sesuatu yang memiliki bobot unggul. Seketika saya merasa―jelas ini hanya perasaan saya pribadi―bahwa IQ ini sudah naik satu strip dan siap beradu argumen tentang isu-isu berat.

Buku ini sepertinya menghadirkan suatu candu. Candu terhadap literasi yang menghadirkan pesan berbalut kompleksitas.

Sepertinya saya harus bersiap membongkar tabungan lagi untuk berburu buku-buku milik Eka yang lainnya. Otak saya―yang dipenuhi micin―butuh asupan yang lebih bergizi.


Testimoni :

Widyanuari Eko Putra, Jawa Pos

“Cerpen yang keseluruhannya ditulis pada periode 1999-2000 ini tak sekedar kisah, namun semacam jejak sejarah.”

Yohanes Krisnawan, Kompas

“Kelihaian Eka Kurniawan bercerita tampak ditopang oleh sudut pandang dirinya terhadap drama kemanusiaan. Menariknya, penulis mampu menyelipkan humor segar yang tetap kuat terjalin dengan bagian-bagian lain.”

Maman S. Mahayana, Media Indonesia

“Nada komedi-satirnya cukup kuat dalam Corat-coret di Toilet. Cerdas juga usahanya mengangkat hal kecil yang remeh temeh menjadi problem kemanusiaan.”

Benedict R. O’G. Anderson, Indonesia

“I decide to translate Corat-coret di Toilet not only because it is one of Eka’s best-known short stories, but because it is very blackly funny. It catches perfectly the atmosphere of student life in Indonesia at the start of the new century, as the brief promise of Reformasi was being extinguished by gangsterism, cynicism, greed, corruption, stupidity, and mediocrity. It also mirrors beautifully the bizarre lingo shared by ex-radicals,  sexual opportunists, young inheritors of the debased culter of the New-Order era, and anarchists avan la lettre. Finnaly, it shows Eka’s gift for starling imagery, sharp and unex-pected changes of tone, and his ‘extra-dry’ sympathy for the fellow-members of his late-Suharto generation.”

Iklan

4 tanggapan untuk “[REVIEW BUKU] CORAT CORET DI TOILET – EKA KURNIAWAN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s