IMG_20170328_172355k

Sekelompok anak muda yang merasa hampir tidak punya masa depan karena nyaris gagal dalam studi tiba-tiba seperti menemukan sesuatu yang dianggap bisa menyelamatkan kehidupan mereka: bermain judi. Buku ini merekam kisah Puthut EA bersama sahabat-sahabatnya. Tentang kenakalan mereka, kejadian-kejadian diluar pakem kelumrahan yang mereka alami, dan berbagai kegilaan lainnya.

©Puthut EA

Buku Mojok, Desember 2016
178 hlm.


Mengenal situs Mojok.co adalah pengalaman religius saya sebagai seorang blogger. Mengenal Mojok.co ibarat menemukan agama baru yang dirasa pas―atau berpotensi memberikan keuntungan lebih, misalnya prosentase menemukan jodoh di agama ini lebih tinggi.

Terima kasih pada Puthut EA yang sudah pernah melahirkan Mojok.co, karena situs ini membuat saya sadar bahwa saya hanyalah remah-remah rempeyek yang belum pantas bermimpi menjadi penulis. Jangankan menerbitkan buku sendiri, tulisan saya bisa nampang di mojok saja masih menjadi suatu kemustahilan―semustahil saya menandingi kegantengan Agus Mulyadi.

Dari Mojok.co inilah saya mengenal sosok Puthut EA. Perkara dia dulunya adalah sastrawan ternama dengan berbagai cerpen di surat kabar nasional dan buku-bukunya yang laris manis, saya tak tau itu. Yang saya tau, Puthut EA adalah “Kepala Suku” di Mojok dan menjadi junjungan orang-orang yang ada di kolam per-mojok-an ini―tapi kalo urusan pesona, mas Puthut masih kalah sama Agus Mulyadi.

Saya adalah orang yang tak jago mengingat, namun saya ingat betul bahwa saya pernah merasa terkesan pada beberapa tulisan mas Puthut, karena dari tulisan-tulisan itu pikiran saya menjadi sedikit tercerahkan menanggapi isu yang waktu itu sedang naik. Perkara tulisan yang mana, saya sudah lupa―kan sudah saya bilang, saya tidak jago mengingat.

Syukurlah Buku Mojok menerbitkan ulang beberapa karya mas Puthut. Karena sepertinya sangat sulit untuk melakukan perburuan pada buku-buku mas Puthut yang terbitan lawas. Dari kesan yang saya ingat inilah, akhirnya saya mulai menabung secara khusus untuk berburu buku-buku mas Puthut.

Buku yang berhasil saya dapatkan dalam perburuan pertama adalah Para Bajingan yang Menyenangkan dan Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Saya baru membeli 2 buku tersebut alasannya sangat jelas, karena saya masih kere, budget saya tidak cukup untuk membeli lebih dari 2 buku. Dua buku inipun saya dapatkan dari diskonan di Togamas. Terbukti kan betapa kerenya saya, 2 buku yang harganya tak lebih dari 200 ribu saja masih nyari diskonan.

Dan alasan lain kenapa dua buku itu yang saya beli dulu, pertama karena saya ingin belajar tentang cinta dari mas Puthut yang katanya Don Juan―di masanya. Dari buku Cinta Tak Pernah Tepat Waktu saya berharap bisa mendapat wejangan perihal cinta. Sedangkan Para Bajingan yang Menyenangkan saya beli alasannya sangat sepele, karena buku ini adalah salah satu buku terlaris di Mojok Store.

Para Bajingan yang Menyenangkan | Storyofjho

Karena rasa penasaran yang mendalam, kenapa Para Bajingan yang Menyenangkan ini menjadi salah satu buku terlaris di Mojok Store, saya akhirnya memutuskan untuk membaca buku ini terlebih dahulu―berusaha bersabar dulu belajar tentang cinta dan patah hati.

Statusnya sebagai “buku terlaris” memang sudah membangun ekspektasi yang sangat tinggi di pikiran saya. Wah iki mesti buku sangar, karya sastra masterpiece yang bisa menggugah jiwa banyak orang dan mencerahkan pikiran mengenai kebenaran yang seharusnya diterapkan dalam tatanan dunia.

Namun setelah membaca buku ini jujur saya kaget. Seperti judulnya, buku ini memang bajingan. Dimananya yang menggugah jiwa banyak orang, dimananya yang mencerahkan pikiran tentang kebenaran perihal tatanan dunia. Bodohnya, kenapa saya sempat berpikir seperti itu, lha wong di sampul belakang sudah diwanti-wanti bahwa di buku ini akan menunjukan kisah-kisah para bajingan yang doyan judi. Betul betul.

Yang diluar ekspektasi saya lagi, katanya buku ini Novel, tapi kok isinya malah curhatan mas Puthut tentang sahabat-sahabatnya. Wah blunder tenan. Tapi ya sudahlah, yang penting bukunya tidak mengecewakan. Seperti judul bukunya, buku ini memang bajingan, tapi tentu saja menyenangkan.

Buku ini menceritakan tentang pengalaman kehidupan mas Puthut selama hidup dengan sahabat-sahabatnya di Jogja. Gaya hidup ala anak muda yang rebel, dipenuhi kegiatan melawan norma seperti judi dan mabok semuanya diceritakan di buku ini.

Saya merasakan ada kejujuran di buku ini. Setiap narasi dibalut kata-kata yang apa adanya. Memang tidak terasa nyastra, tapi itulah poin menyenangkannya. Buku ini terasa sangat membumi. Sebagai “mantan” anak muda yang pernah terjerumus dalam kenakalan―meski tak separah geng Jackpot Society itu―saya merasakan ada sesuatu yang relate dengan kehidupan. Terasa jujur, apa adanya, tak mengada-ada.

Komedi yang dituliskan oleh mas Puthut terasa menyenangkan untuk dicerna. Memang ada beberapa yang terasa kriuk, tapi secara keseluruhan gaya berkomedi yang mengadopsi komedi khas mataraman ini berhasil memicu ledakan tawa.

Seperti yang sering Adriano Qalbi sampaikan, komedi yang berhasil itu adalah komedi yang relate dengan kehidupan dan membuat orang berpikir “wah bener juga yah, kejadian juga nih sama gue”, nah komedi semacam inilah yang dihadirkan oleh mas Puthut dalam buku ini, tentu saja dengan gayanya sendiri.

Yang terasa menyenangkan―secara personal―buku ini banyak menggunakan diksi-diksi bahasa jawa yang nyleneh. Mungkin untuk beberapa orang tidak familiar dengan bahasa jawa akan “sedikit” kesulitan mencerna tulisannya (dibagian belakang ada kamusnya), tapi untuk saya yang orang jawa asli dan familiar betul dengan diksi-diksi yang digunakan, efek tawa yang dihasilkan bisa sangat besar. Ncen ASU tenan lah.

Kisah mas Puthut dengan Bagor adalah kisah favorit saya di buku ini. Kisah hidup Bagor ini sangat comedic, dan menyenangkan. Banyak kegoblokan dan kejadian yang membuat geleng-geleng kepala. Bagor ncen pekok, kok ya ada manusia kaya Bagor.

Tak kalah menarik dengan kisah hidup Bagor, kisah-kisah yang lain juga cukup menyenangkan. Suatu hal yang menyadarkan saya bahwa pertemanan itu terbangun bukan dari kesamaan, bahkan perbedaan bisa menguatkan ikatan pertemanan. Berbagai pisuhan juga bukan alasan untuk memutuskan hubungan persahabatan. Memang untuk bisa bersahabat secara langgeng memang harus lebih dulu menjadi bajingan, karena dari berbagai aktifitas melanggar norma inilah ikatan mereka terbentu dengan kuat―namun tentu saja ini tidak dianjurkan untuk ditiru, kalo mau niru ya silahkan.

Buku ini mungkin menjatuhkan ekspektasi saya, namun buku ini tetaplah buku yang menyenangkan untuk dikonsumsi. Sudahlah jangan saklek menggali pesan moral atau mengkaji nilai kehidupan yang ingin disampaikan oleh buku ini, sudah nikmati saja. Biarkan diri kalian tenggelam dalam tawa, biarkan diri kalian menikmati kegoblokan yang disajikan, baru setelah itu berpikirlah, sudahkah kalian cukup menikmati hidup. (JHO)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s