WhatsApp Image 2017-05-02 at 8.49.54 PM

Kata-kata Pandji Pragiwaksono itu seperti racun. Sekali saja menelannya, racun itu pasti akan menjalar. Saya merasa terkutuk menjadi salah satu penggemar Pandji. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya “hampir selalu” membuat saya teracuni dengan pikirannya. Misalnya perkataannya tentang “kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk Indonesia”.

Awalnya, saya tidak pernah merasa tersentuh dengan hal-hal berbau nasionalisme semacam ini. Memikirkan Indonesia tidak ada untungnya bagi saya, lagipula saya yang kecil ini bisa memberi kontribusi apa untuk merubah Indonesia.

Pikir saya dulu, semua hal tentang nasionalisme hanyalah sebatas omong kosong belaka. Rasanya tidak akan ada orang yang sepeduli itu dengan negaranya. Lagipula saya juga belum merdeka secara ekonomi. Daripada memikirkan tentang omong kosong nasionalisme tadi, lebih baik saja kerja cari uang biar kaya.

Tapi sepertinya racun dari perkataan Pandji itu mulai bekerja pada diri saya. Hati nurani saya seperti selalu dipenuhi oleh gemuruh “kapan kamu jadi manusia berguna Jho”. Mungkin mimpi saya tidak sebesar “ingin merubah Indonesia”, tapi akhirnya saya merasa tergerak untuk berbuat yang lebih besar daripada sekedar memenuhi kebutuhan saja.

Saya merasa ingin sekali melakukan perbuatan besar yang bisa memberikan kontribusi nyata di society. Pertanyaannya sekarang, saya harus berbuat apa?

Memulai dengan langkah bayi.

Sejak kuliah saya tidak lulus, saya merasa tidak berguna sebagai manusia. Salah satu adik saya yang lulus SMK bisa langsung kerja dan bisa menghasilkan uang cukup lumayan—cukup mewah untuk standar hidup di desa. Sedangkan saya, sudah dikuliahkan, eh tidak lulus. Ijazah perguruan tinggi tak punya, kerjaan sekarang pun gajinya juga seadanya.

Dengan kondisi ini, muka ini seperti dibenturkan ke tembok. Kebutuhan sendiri saja belum tercukupi, kok masih mau mikiri berkontribusi untuk orang lain. Mbok mikir Jho.

Tapi rasanya hati nurani saya memang tidak pernah mau diam. Dia selalu berontak dan memaksa untuk melakukan hal yang diluar nalar pribadi saya.

Sebagai seorang yang gagal dalam pendidikan, saya memang merasa terpanggil untuk sedikit berkontribusi di dunia pendidikan ini. Ditambah lagi, saat masih menjadi mahasiswa saya pernah mengajar selama 2 semester di salah satu SMK sebagai guru bantu. Pengalaman mengajar membukakan mata saya pada dunia pendidikan—di sekolah tersebut—yang memiliki cukup banyak cacat. Mungkin dari situlah muncul sedikit panggilan hati di bidang pendidikan ini.

Jika pengalaman mengajar tadi menjadi trigger terpanggilnya saya di dunia pendidikan, pertemuan dengan KIP (Kelas InspirasiPurworejo) mungkin adalah suatu takdir yang sudah dirancangkan Tuhan semesta raya. KIP seperti  kendaraan yang tepat untuk saya memulai langkah bayi, langkah awal—yang kecil—untuk berbuat lebih besar bagi society.

Saya pernah mencoba untuk mendaftar di KIP 1, sayangnya karena kerjaan yang cukup menyibukan, saya telat mendaftar. Akhirnya saya mencoba peruntungan di KIP 2. Di KIP 2 saya diterima sebagai panitia lokal divisi sosialisasi dan dalam pelaksanaan hari inspirasi saya menjadi fasilitator di SDN Sawangan, Pituruh.

Saya tidak pernah menyangka bisa masuk menjadi bagian dari KIP. Rasanya sungguh tidak mungkin. Latar belakang pendidikan saya tidak begitu bagus, secara skill saya juga merasa masih sangat biasa-biasa saja. Tapi mungkin inilah jawaban bahwa Tuhan semesta raya merestui panggilan hati saya.

Setelah saya terjun langsung bertugas di KIP, saya merasakan betul bagaimana sulitnya menjadi seorang relawan. Saya memiliki tanggung jawab untuk bekerja dan dilain sisi saya juga harus mengerjakan tugas di KIP—tanpa dibayar, bahkan sesekali harus merogoh kocek pribadi.

WhatsApp Image 2017-05-02 at 3.25.16 PM

Saya sempat ingin menyerah ditengah jalan karena beratnya tanggung jawab yang harus saya kerjakan. Tapi memang hati nurani tidak bisa ditipu, berapapun beratnya tanggung jawab tersebut, nyatanya saya masih terus mengerjakan tugas saya di KIP hingga detik ini.

Saya selalu bermimpi bisa memiliki yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Mimpi ini sudah saya pendam sejak saya masih duduk di bangku kuliah. Mimpi ini selalu saya bungkam—hingga sekarang saya sampaikan disini—karena saya tidak cukup yakin bisa mengejarnya.

Jika memang Tuhan mau memakai saya sebagai salah satu alatnya untuk merubah dunia pendidikan di Indonesia, mungkin ini adalah persiapan yang Tuhan berikan untuk membentuk saya. KIP seperti langkah pertama saya sebagai bayi di dunia kerelawanan bidang pendidikan. Semoga langkah awal ini akan diikuti dengan langkah-langkah selanjutnya yang jauh lebih besar.

Mata terbuka, tangan bekerja.

Di KIP saya ditugaskan menjadi fasilitator di SDN Sawangan. SDN Sawangan yang menjadi tempat saya bertugas memiliki banyak sekali kekurangan fasilitas. Secara bangunan memang terlihat cukup bagus. Sudah berkeramik dan semua ruang kelas tampak layak.

Tapi ada beberapa fasilitas sekolah yang masih kurang seperti jumlah ruang kelas yang cuma ada 5 kelas, perpustakaan yang dijadikan satu dengan gudang, kurangnya buku bacaan, guru yang masih PNS hanya ada 2 dan berbagai kekurangan lainnya.

Di sekolah ini juga ada beberapa ABK. ABK memang tidak sepantasnya disekolahkan di sekolah umum semacam ini, tapi karena sekolah untuk ABK cukup jauh dan biayanya sangat mahal, orang tua ABK tetap menyekolahkan anak mereka di sekolah umum ini.

Menerima ABK sebagai murid menjadi suatu ironi bagi pihak sekolah. Di satu sisi sekolah tidak mumpuni untuk mendidik ABK karena guru pengajar tidak dibekali kemampuan mendidik ABK secara khusus, tapi disisi lain jika sekolah menolak menerima ABK sebagai siswa, anak-anak ini tidak akan mengecap pendidikan sama sekali.

Cukup kaget juga saat saya mendapati cerita dari kepala sekolah bahwa kebanyakan anak-anak di SD tersebut memiliki semangat sekolah yang sangat kurang. Keinginan anak-anak untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat lanjutan sangat kecil. Masih banyak anak yang sudah merasa cukup menempuh pendidikan sampai tingkat SMP, bahkan ada juga yang hanya sampai SD. Di desa ini tingkat pernikahan usia dini juga sangatlah tinggi.

Saya cukup kaget dengan berbagai kenyataan ini. Padahal lokasi SDN Sawangan bisa dibilang tidak terlalu terpencil. Akses jalannya masih cukup baik untuk dilewati, dari pusat kota juga hanya sekitar 30 menit.

Mengetahui kondisi ini, mata saya dibukakan bahwa modernisasi atau pembangunan yang terlalu cepat akan menjadi sia-sia jika pembangunan terhadap manusianya terabaikan.

Dulu saya hanya bisa merasa miris dan berkoar-koar dibalik layar gadget, “Perbaiki pendidikan di Indonesia”. Tapi setelah menjadi bagian dari KIP,  saya dituntut untuk terjun langsung ke lapangan dan melihat sendiri keadaannya. Setelah melihat keadaan yang ada, tantangannya adalah bagaimana usaha saya untuk turun tangan mengubah kondisi ini.

Di KIP kami turun tangan memberi inspirasi pada anak-anak SD ini mengenai berbagai profesi yang bisa mereka kejar sebagai cita-cita. Saya cukup berbangga karena menjadi bagian dari kegiatan positif ini—meski tidak turut mengajar sebagai inspirator.

Tapi pertanyaannya sekarang, apakah inspirasi dari relawan pengajar cukup membuka mata anak-anak ini? Apakah kegiatan ini sudah bisa memberikan solusi? Pertanyaan itu sampai sekarang masih menghantui saya. Mata ini sudah melihat langsung berbagai ironi di dunia pendidikan, tantangannya sekarang seberapa jauh tangan ini mau bekerja merubah keadaan?

Selepas Hari Inspirasi, saya masih resah. Pikiran saya masih berkecamuk ingin lekas bergerak lagi. Tapi rasanya itu terlalu naif. Saya tidak bisa melakukan lompatan terlalu jauh. Jika ingin menghasilkan perubahan yang besar, saya harus rela melewati proses ini.

Saya berharap inspirasi yang sudah kami taburkan bisa tertanam dalam hati anak-anak. Mungkin benih inspirasi itu belum akan tumbuh sekarang, tapi di waktu yang tepat benih itu akan tumbuh dan menhantarkan anak-anak di SDN Sawangan  menjadi manusia yang luar biasa.

Pengalaman 2 hari bersama relawan pengajar dan sehari bersama anak-anak SDN Sawangan adalah pengalaman yang sangat berkesan buat saya. Saya bahagia karena memiliki keluarga baru, saya juga bahagia bisa melihat tawa anak-anak melalui kegiatan yang kami buat.

Melalui kegiatan ini saya semakin sadar bahwa inspirasi yang sebenarnya bukanlah berasal dari kata-kata semata. Inspirasi yang bisa mengubah orang lain adalah sebuah inspirasi yang muncul dari tindakan nyata. (JHO)

Iklan

7 tanggapan untuk “Turun Tangan Berbagi Inspirasi Nyata, Bukan Sekedar Kata-kata #KelasInspirasiPurworejo2.

  1. Membacanya jadi semacam gemblengan besar buat saya 😦
    Pernah sekali daftar KI ini waktu resign dari kerjaan. Tetapi belum beruntung buat ketemu sama anak anak keren yang inspiratif kayak mereka. Sekarang malah terlena sama pekerjaan. Dan baca ini rasanyaaa. Hehe
    Semoga apa yang dicita citakan segera menemui jalannya 🙂

    Suka

  2. Hehehe gimana ya menanggapinya. Miris sih, miris.. Cuma kalau aku cuma bisa bilang miris di sini juga sama aja kayak yg cuma koar-koar di sosmed.
    Yah, intinya semua orang punya keberuntungannya sendiri. Selamat datang di dunia pengabdian masyarakat, bang Jho huehehehehehe.
    Nggak nyambung, maap.

    Suka

  3. pendidikan itu emang jadi salah satu hal terpenting menurutku, melalui pendidikan bisa mengubah pola pikir seseorang. hebat mas, waktu kelas inspirasi sha ga sempet ikut karena kerja. semangat banget liat foto anak-anak diatas 🙂

    btw, sha ke sawangan purwerjo bulan februari lalu. gak nyangka kondisi sekolahnya seperti itu. sampe bingung mau ngomong apa..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s