Perpustakaan-jalanan-purworejo

Tak biasanya minggu pagi saya bangun dari kasur nyaman dengan selimut hangat bekas iler semalam. Tempat tidur adalah kenyamanan yang paling hakiki di hari minggu. Tapi minggu pagi itu saya merelakan kenyamanan untuk melihat perpustakaan jalanan yang beritanya sedang malang meintang di timeline sosial media seputar Purworejo.

Atas dasar usaha mencapai titik kekinian persona hits, rasanya sangat berdosa jika melewatkan hal ini.

“Membaca adalah melawan.” Sebuah slogan yang mencolok mata terpampang di stand banner dari Pustakanafas. Dikelilingi oleh pajangan buku-buku—yang diperbolehkan untuk dibaca secara gratis—dan area mewarnai bagi anak.

Ada banyak jenis buku yang tampak di pajang. Ada serangkaian komik Conan yang tak lengkap serinya. Ada juga comic-comic lain yang tersebar diantara buku-buku lain.

Buku-buku pelajaran yang sudah usang, novel, buku-buku agama, hingga buku-buku sosial politik semuanya tersedia. Tercampur jadi satu. Tak ditata dengan kategori tertentu sebenarnya agak menganggu buat saya, tapi dalam kondisi ini sepertinya saya memang harus berkompromi.

Diantara jajaran buku yang di pajang, ada beberapa harta karun yang berhasil ditemukan oleh mata saya. Beberapa novel Pram dan buku-buku kiri membuat air muka saya berbinar. Ini benar-benar harta karun. (Semoga buku-buku ini tidak dikeruk oleh kelompok-kelompok tertentu yang insecure.)

Orang-orang yang terlibat di Pustakanafas ini cukup asing bagi saya, hanya ada seorang saja yang sudah cukup saya kenal. Andi namanya. Saat pertama kali datang, dia langsung menyapa saya dan mengenalkan saya pada Aldi, penggagas perpustakaan jalanan Purworejo ini.

Diluar ekspektasi saya, ternyata dia masih sangat muda. Kami sedikit ngobrol tentang awal mula gagasan perpustakaan jalanan ini muncul. Dia kemudian sedikit berkisah tentang dirinya yang aktif di sebuah kelompok diskusi bernama wacana kerdil. Berdasarkan penuturannya, dari situlah dia tergerak untuk membawa semangat literasi ini ke kota asalnya, Purworejo.

Lebih jauh, kita juga berdiskusi tentang buku-buku sosial politik. Sungguh menyenangkan, saya kagum pada anak ini. Pengetahuannya ternyata jauh lebih banyak daripada saya. Saya yang selama ini masih setia dengan konsumsi fiksi, merasa cukup terhakimi dengan pengetahuan sosial politiknya. Tapi bagaimanapun juga, diskusi dengannya adalah diskusi yang sangat menyenangkan.

Dibuatnya perpustakaan jalanan ini saja sebuah pukulan telak buat saya. Sudah sejak lama saya membayangkan bisa membuat perpustakaan jalanan di Purworejo. Tapi semuanya hanya stuck di gagasan. Kelas Inspirasi Purworejo dan Purworejo Menulis, komunitas yang saya harap bisa menjadi kendaraan untuk membuat perpustakaan jalanan ini nyatanya tidak cukup mampu menampung gagasan tersebut. Karena pada akhirnya semua punya prioritas dan concern masing-masing dan mengkampanyekan budaya literasi ternyata belum menjadi concern banyak orang.

Sepertinya lapak Pustakanafas yang ada di CFD Purworejo ini cukup menarik perhatian masyarakat. Ada banyak orang yang berkerumun melihat-lihat gelaran buku. Tapi sepertinya lapak baca ini baru sebatas menarik untuk dilihat-lihat, masyarakat belum cukup tertarik untuk mengambil buku dan membacanya—meski ada, tapi masih sedikit jumlahnya. Setidaknya itulah yang ada di pengelihatan saya.

Tempat yang dibuat khusus untuk para pembaca, terlihat hanya segeintir orang disitu. Hanya ada sekitar 2 atau 3. Tapi saya cukup optimis, Perpustakaan jalanan yang digerakan Pustakanafas ini akan berdampak.

Terlihat ada seorang bapak-bapak yang mengambil buku Tan Malaka dan ingin membelinya. “Maaf pak, ini tidak dijual. Ini buat dibaca saja. Kalo mau pinjam boleh. Gratis.” Begitu kata salah seorang anggota Pustakanafas yang berjaga, mencoba menjelaskan pada bapak-bapak tadi. (JHO)

Iklan

2 tanggapan untuk “Pustakanafas, Kampanyekan Budaya Baca di Jalanan Purworejo.

  1. Klo saya sendiri menilai hal semacam itu sulit sukses mas. Saya bawaannya pesimis saja karena mendirikan perpustakaan baca akan sulit mendapatkan pengunjung karena faktor tempat yg kurang nyaman, buku yg relatif sedikit, dan tentu tidak adanya sistem pinjam yg bolehdibawa pulang.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s