[REVIEW FILM] SUSAH SINYAL : Butuh Tower Untuk Terhubung.

Susah Sinyal

Director: Ernest Prakasa

Writer: Ernest Prakasa & Meira Anastasia

Cast: Adinia Wirasti (Ellen Tirtoatmodjo), Aurora Ribero (Kiara), Ernest Prakasa (Iwan), Oma Agatha (Niniek L. Karim), Asri Welas (Tante Maya), Yos (Abdur Arsyad), Melki (Ari Kriting), Abe (Rafael Hady), Saodah (Aci Resti), Ngatno (Dodit Mulyanto), Aji (Darius Sinathrya), etc.

Published: 21 Desember 2017

Rating: 7.0/10

Sinopsis:

Ellen, seorang single mother yang sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai pengacara. Karena kesibukannya, Ellen memiliki hubungan yang renggang dengan Kiara, anak semata wayangnya. Kiara malah lebih dekat dengan Oma Agatha. Sayangnya Oma Agatha harus menutup usia. Kondisi ini memaksa Ellen dan Kiara harus hidup berdua dan memperbaiki hubungan mereka.

Liburan ke Sumba menjadi usaha Ellen untuk mendekatkan diri pada Kiara. Di Sumba yang susah sinyal memaksa mereka berdua untuk sejenak meniggalkan dunia mereka (dalam smartphone) dan merajut kembali hubungan satu sama lain. Sayangnya hubungan yang sudah lebih baik saat liburan ke Sumba akhirnya harus mengalami keretakan lagi saat Ellen dan Kiara sudah kembali ke Jakarta. Bagaimana usaha Ellen dan Kiara memperbaiki sinyal yang lama tak saling terhubung?

***

Lanjutkan membaca “[REVIEW FILM] SUSAH SINYAL : Butuh Tower Untuk Terhubung.”

Iklan

Kita Sama-Sama Suka Mengenang Banda Neira.

Banda Neira

Yang,
yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

***

Tak ada yang pernah mengira lantunan lagu dari duo Rara – Nanda, akan merebut hati banyak orang—bahkan mereka berdua sendiri pun tak mengiranya. Bermula dari ketidaksengajaan, semesta kemudian merestui lahirnya keindahan baru dalam diri mereka berdua. Duo nelangsa pop asal Bandung ini menamai diri mereka Banda Neira, diambil dari nama pulau tempat dibuangnya Syahrir dan Hatta.

Agustus 2012, Rara Sekar dan Ananda Badudu sepakat merekam 4 lagu yang mereka miliki (Di Atas Kapal Kertas, Ke Entah Berantah, Rindu, dan Esok Pasti Jumpa), kemudian mengunggahnya ke Soundcloud. Tak ada harapan muluk-muluk, sekadar ingin berkarya saja. Tapi siapa kira, berawal dari keisengan di paruh waktu, Banda Neira kemudian beranjak menjadi sesuatu yang terus berjalan lebih jauh.

Akhir 2012, Rara dan Nanda melengkapi repertoar untuk album perdana mereka dengan membawa enam materi baru. Hanya butuh 2 jam proses rekaman untuk menghasilkan karya yang mampu memporak-porandakan perasaan banyak orang.

Secara tidak sengaja, Saya menemukan lagu Hujan di Mimpi kala berselancar di kanal YouTube. Tak pernah mengenal nama mereka, padahal saat menemukannya, dua tahun sudah mereka berkarya. Tapi entah mengapa sejak pertama kali memutar musik mereka, secara emosional Saya langsung terikat dengan musik mereka.

Meski sekadar diiringi petikan gitar sederhana dengan bakat seadanya, penggalan lirik yang ditulis Rara  dan Nanda bisa menghasilkan lagu yang sarat kedalaman makna.

Butuh berkali-kali mendengarkan untuk bisa mencerna kedalaman makna yang ingin disampaikan melalui lirik lagunya. Hingga pada akhirnya—entah dalam repetisi ke berapa—penggalan lirik, “Sepi itu indah, percayalah. Membisu itu anugerah.” Terasa begitu monohok di hati.

Untuk seseorang yang selama bertahun-tahun selalu terintimidasi dengan perasaan kesepian dan kekosongan, penggalan lirik itu seperti sokongan yang sangat berarti.  Saya benci menyampaikan hal ini karena membuat Saya tampak menye-menye. Tapi ya itulah kenyataannya.

Tahun 2014, saat pertama kali menemukan Banda Neira, Saya sedang dalam fase hidup di level paling bawah. Perjuangan yang bertahun-tahun dikerjakan tiba-tiba dimentahkan, mimpi sederhana telah dipatahkan, bahkan sedikit harapan tempat berpegang kemudian ditumbangkan. Saat hidup mulai terasa begitu kacau, rasa kesepian yang dulu sempat meneror tiba-tiba datang lagi mulai meracau.

Hujan di Mimpi adalah pemberi kekuatan kala hati Saya mulai dirundung sepi. Alih-alih dipaksa meninggalkannya, Banda Neira justru menyarankan untuk menikmatinya. Meringsak di pojokan kafe sendirian, dengan headset tertancap di telinga, kemudian memutar lagu ini untuk merayakan sepi.

Lagu Rindu menjadi pelengkap playlist kala itu. Musikalisasi puisi dari Subagio Sastrowardoyo ini tampak nyata menggambarkan perasaan Saya. “Adalah teman bicara, Siapa saja atau apa.— Sunyi, menyayat seperti belati.”

Apakah kalian pernah mendengarkan sekumpulan lagu, yang saat disusun sedemikian rupa, rasanya seperti soundtrack pengiring kondisi hidup? Itu yang Saya rasakan saat menyusun beberapa lagu dari Banda Neira.

Saya seringkali meletakkan lagu Rindu dalam nomor putar pertama, Hujan di Mimpi pada urutan selanjutnya, kemudian berlanjut Ke Entah Berantah, Esok Pasti Jumpa, dan Berjalan Lebih Jauh.

Rasanya seperti sedang diajak berdamai dengan diri sendiri, kemudian bersamanya—Banda Neira—dituntun dan ditemani untuk berjalan perlahan menuju kondisi yang lebih baik. Dari fase ke fase, lagu-lagu Banda Neira ini benar-benar hadir sebagai kawan. Mengiring. Menemani. Mendukung.

Saat pertama kali menemukan Banda Neira, Saya merasa seperti anak kecil yang kegirangan karena menemukan koin di saku celana. Sebuah bahagia sederhana yang disimpan karena keberhargaannya.

Saat Konser Kita Sama-sama Suka Hujan mulai ramai di pemberitaan, ada rasa bangga yang saya rasakan. Bersama Gardika Gigih, Layur, Suta Suma, dan Jeremia Kimoshabe, duo Rara-Nanda serasa telah memasuki level baru secara musikalitas. Hype konser kolaborasi ini juga menunjukan bahwa eksistensi Banda Neira lebih banyak lagi diterima. Banda neira sudah menjadi milik lebih banyak orang.

Terlebih saat Banda Neira mengumumkan sedang melakukan proses pembuatan album kedua. Siapa yang tak girang. Tak seperti album pertama yang terkesan seadanya, album kedua itu digarap dengan lebih totalitas. Rara dan Nanda pun sampai tak mengambil pekerjaan serius selama kurang lebih 5 bulan, demi menggarap album ini.

30 Januari 2016. Kabar bahagia akan rilisnya album baru Banda Neira diiringi dengan kepiluan. Dalam konser rilis kecil-kecilan yang mereka buat di Tangerang, Rara mengumumkan akan melanjutkan sekolah ke New Zealand. Konser tadi menjadi panggung terakhir Banda Neira yang entah kapan akan manggung lagi.

Tak hanya pengunjung Kedai PGP Cafe, Tangerang kala itu yang merasa pilu. Saya dari kejauhan juga merasakan pilu. Banyak kesempatan kala Banda Neira mampir mengisi acara di Jogja, sayangnya waktunya selalu tak sesuai.

“Nontonnya nunggu mereka bawa materi baru album kedua aja,” pikir Saya kala itu, mengobati sedikit rasa kecewa. Tapi entah kapan lagi bisa melihat Banda Neira kembali mengisi panggung.

16 Februari 2017. Perilisan album fisik Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti membuat riuh penggemar Banda Neira. Benar saja, lagu-lagu di album kedua terasa lebih mewah dibanding lagu-lagu di album pertama. Aransemennya begitu megah. Kekuatan pada penulisan liriknya tetap tak berubah. Level musikalitas Rara dan Nanda benar-benar naik pesat. Banda Neira mulai bermain di ranah yang lebih kompleks. Kompleksitas yang indah dalam 15 track.

Selepas itu akun YouTube resmi Banda Neira pun merilis beberapa video musik seperti Pelukis Langit, Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti, hingga Sampai Jadi Debu yang begitu sendu. Mungkin ini dimaksudkan sebagai pelepas rindu bagi para penikmat karya Banda Neira.

Masih ada sedikit rasa optimisme dalam diri saya. Rara pasti pulang dan bersama Nanda mereka berdua akan kembali menghiasi panggung-panggung musik—dan saya sangat menunggunya kembali menyambangi Jogja.

Ingin sekali rasanya melihat secara langsung mereka berdua memainkan lagu-lagu di album kedua ini. Mengajak penonton bernyanyi “pap-para-parararap” di lagu pelukis langit. Menyerukan “La historia me absorveral” di lagu Tini dan Yanti sembari mengenang kejahatan kemanusiaan 65. Bersama string section menyanyikan Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti. Berkolaborasi dengan Gardika Gigih membawakan Sampai Jadi Debu sembari merakit sendu bersama-sama penonton.

23 Desember 2016. Banda Neira melalui akun FB resmi mereka mengumumkan bubar. Perahu Kertas yang telah berjalan jauh mulai merapat ke dermaga. Berhenti. Sementara atau selamanya? Tak ada yang bisa menebaknya. Semesta memang kadang sebajingan itu. Dia mempertemukan kita dengan sesuatu yang berharga, kemudian mengambilnya begitu saja tanpa aba-aba. Ada rasa getir saat Saya membaca pengumuman ini. Bahkan Saya sempat meneteskan air mata.

Ada rasa marah dan kecewa, tapi hati ini tak pernah mampu untuk membenci. Saya berusaha untuk memaklumi. Diskusi perihal pembubaran Banda Neira sudah dilakukan selama kurang lebih satu tahun. Hal ini tentu lebih berat lagi bagi mereka. Akhirnya Saya hanya bisa menerima, seperti halnya mereka juga menerima. Seperti yang mereka isyaratkan dalam lagu mereka, karena yang hilang akan berganti. Hanya ada ucapan #terimakasihbandaneira untuk setiap keindahan yang telah mereka bagikan.

31 Desember 2016. Nanda menuliskan empat babak ucapan perpisahan yang begitu emosional. Di babak ke II, ada sepenggal kalimat yang membuat Saya bergetar. Nanda menuliskan, “Oleh seorang teman, setelah pengumuman bubar, saya sempat ditanya apa arti Banda Neira bagi saya. Saya jawab, Banda Neira itu memulihkan.”

Saya merasakan apa yang dirasakan Nanda. Banda Neira hadir sebagai pemulihan. Nanda bisa sedikit pulih dari sikap inferior—rendah diri—karena Banda Neira, Saya bisa pulih dari perasaan kosong—yang sempat hilang dan kembali mengancam—juga karena Banda Neira. Badan Saya benar-benar bergetar saat membacanya.

Banda Neira memiliki arti besar tak hanya bagi Rara Sekar dan Ananda Badudu. Banda Neira memiliki arti besar untuk banyak orang. Saya kira ada banyak orang juga diluaran sana yang merasakan pemulihan melalui Banda Neira.

Band Banda Neira

Hari ini, 23 Desember 2017, tepat 1 tahun Banda Neira mengumumkan pembubaran. Eksistensi Banda Neira sebagai sebuah grup musik mungkin tak lagi ada. Tapi izinkan saya untuk tetap berharap suatu saat nanti Rara-Nanda bisa kembali bersama meski entah kapan adanya.

Banda Neira tidak akan pernah hilang. Meski zaman demi zaman berlalu, akan ada sekumpulan orang yang akan terus memupuk ingatan tentang Banda Neira, tentang bagaimana luar biasanya mereka mengkoyak-koyak hati dengan lagu-lagunya.

Kelak saat era telah berganti, saat anak saya luluh dengan musik-musik di zamannya, Saya akan mengenalkan Banda Neira sebagai suatu kenangan yang istimewa.

Sekali lagi #terimakasihbandaneira. Ijinkan Saya jadi salah satu orang yang akan terus memupuk ingatan tentang Banda Neira. (YS)


Setelah menempuh diskusi yang panjang nyaris setahun lamanya, akhirnya kami sampai pada sebuah kesepakatan. Kami bersepakat untuk tidak meneruskan Banda Neira. . . Bukan hal yang mudah membubarkan Banda Neira, terlebih kini karya Banda Neira bukan hanya milik kami berdua, tapi juga milik kalian para pendengar. . . Namun keputusan sudah bulat. Setelah menimbang-nimbang semua kemungkinan, kami yakin dari semua opsi yang ada ini adalah keputusan paling baik. . . Dengan berat hati, melalui surat ini kami umumkan bahwa kami telah bersepakat untuk berpisah dan mengakhiri perjalanan Banda Neira. . . Kami meminta maaf sebesar-besarnya karena tidak bisa memenuhi harapan teman-teman yang ingin kami bisa terus bermusik bersama. . . Kami hanya bisa berterima kasih sebanyak-banyaknya buat semua pendengar juga teman-teman yang banyak berperan dalam perjalanan Banda Neira. Semoga segala apresiasi, dukungan, kehangatan dan pertemanan yang kami dapatkan dari teman-teman dibalas dengan kebahagiaan dan kebaikan yang berlimpah. . . Terima kasih telah menjadi bagian penting dalam hidup kami. Sebuah kenangan yang akan selalu mengiringi ke manapun kami melangkah selanjutnya. . . Salam, Ananda Badudu dan Rara Sekar 23 Desember 2016

A post shared by Banda Neira (@bandaneira_official) on

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

[REVIEW FILM] COCO : Harta yang Paling Berharga Adalah Keluarga.

film-animasi-coco

Director: Lee Unkrich, Adrian Molina (co-director)

Writer: Lee Unkrich (original story by), Jason Katz (original story by), Adrian Molina, Matthew Aldrich.

Cast: Anthony Gonzalez (Miguel), Gael García Bernal (Hector), Benjamin Bratt (Ernesto de la Cruz), Alanna Ubach (Mamá Imelda), Ana Ofelia Murguía (Mama Coco), Jaime Camil (Papa), Sofía Espinosa (Mama), etc.

Published: 21 November 2017.

Rating: 8.9/10

Sinopsis:

Miguel, seorang anak berumur 12 tahun memiliki mimpi menjadi seorang musisi. Sayangnya impian itu terbentur dengan aturan dari nenek moyangnya yang melarang seluruh anggota keluarganya bersentuhan dengan musik. Karena tekad yang bulat untuk mengejar mimpinya, Miguel terpaksa harus mencuri gitar milik Ernesto de la Cruz yang malah membawanya melintasi dunia orang mati. Di dunia orang mati inilah Miguel memulai petualangannya yang akhirnya mengungkapkan banyak rahasia soal sejarah keluarga Miguel yang sebenarnya. Bagaimanakah petualangan Miguel untuk mendapatkan restu dan mengungkap rahasia keluarganya?

***

Lanjutkan membaca “[REVIEW FILM] COCO : Harta yang Paling Berharga Adalah Keluarga.”