Yowis Ben

Director: Fajar Nugros, Bayu Skak (Co-Director)

Writer: Bagus Bramanti, Gea Rexy, Bayu Skak

Cast: Bayu Skak (Bayu), Cut Meyriska (Susan), Brandon Salim (Nando), Joshua Suherman (Doni), Tutus Thomson (Yayan) Etc.

Published: 22 Februari 2018.

Rating: 6.0/10

Sinopsis:

Bayu, anak yang populer dengan julukan pecel boy (karena sering berjualan pecel di sekolah), jatuh cinta pada Susan, sosok wanita cantik yang satu sekolah dengannya. Tapi sayangnya usaha Bayu mendekati Susan terhalang kondisi dirinya yang kurang keren. Untuk bisa menarik perhatian Susan, Bayu akhirnya mengajak temannya Doni untuk membuat sebuah band. Mereka berdua kemudian mencari personel tambahan, dan bertemu dengan Yayan dan Nando. Menamai bandnya Yowis Ben, mereka berempat berjuang meraih pengakuan.

***

Sekarang ini mulai ada banyak Youtuber yang merambah ke dunia film. Bayu Skak, Youtuber asal Malang, mencoba peruntungannya di dunia film dengan membawa sebuah konsep film yang unik. Sebuah film remaja, dengan konsep band-bandnan, dan 90% dialognya berbahasa jawa.

Bisa dibilang ini adalah sebuah terobosan untuk kancah perfilman mainstream.

Indonesia sepertinya, mengalami krisis dalam memproduksi film bertema band. Beberapa tahun terakhir sepertinya tema band, absen dari kancah perfilman.

Yowis Ben seperti angin segar karena kembali menghadirkan dunia band ke dalam film. Membawa konsep anak SMA yang band-bandnan, ide cerita film ini benar-benar menarik. Saya seperti dibawa untuk bernostalgia kembali ke jaman SMA dimana jadi anak band itu kelihatan keren, dan bermain musik pop punk adalah sebuah kebanggaan.

Beberapa orang mungkin akan menyandingkan film ini dengan Suck Seed, film asal Thailand yang mengisahkan tentang anak SMA dan dunia band. Tapi jika saya boleh berpendapat, 2 film ini memang memiliki ide dasar cerita yang hampir sama, tapi jika harus membandingkan, rasanya dua film ini tidak apple to apple.

Secara cerita, Suck Seed sudah cukup matang, ramuannya sudah cukup pas. Sedangkan Yowis Ben, selain chessy, ceritanya masih terkesan klise.

Sekilas latar belakang masing-masing pemeran kesannya seperti dibangun dengan proper untuk mendukung motivasinya. Tapi sayangnya, terlalu banyak unsur “Tell” yang digunakan. Bukannya film seharusnya “Show, don’t Tell” ya?

Sebagai pemeran utama, motivasi Bayu yang ngeband untuk menarik perhatian Susan ditampilkan lebih dominan, hal ini sangatlah wajar. Sayangnya motivasi Doni yang ingin mendapat pengakuan dari orang tuanya, dan motivasi nando untuk diakui karyanya, bukan fisiknya, pengembangannya sangatlah nanggung.

Film ini juga sangat terasa sekali unsur muatannya. Seperti ada sebuah penekanan—yang cenderung dipaksakan—bahwa film ini harus memberikan inspirasi positif dan memberikan edukasi.

Sebuah karya memang bagus jika memiliki muatan. Tapi ha mbok tolong muatannya dibalut dengan rapih biar tidak tampak chessy begitu. Bermuatan itu bagus, tapi estetika cerita ha mbok dipikirkan juga.

Alur ceritanya pun terkesan template. Dari bukan siapa-siapa, membuat band untuk mendapat pengakuan, terbentur masalah, terjadi perpecahan, baikan, kemudian happy ending. Bahkan tak ada kejutan-kejutan berarti dalam alur ini.

Tak hanya cerita, secara akting beberapa pemain juga tampak tidak optimal. Kendala bahasa mungkin jadi penyebab utamanya. Banyak pemain yang pengucapan bahasa jawanya masih terasa kaku. Saya yang notabene adalah orang jawa, sangat bisa merasakan keanehannya.

Disamping nilai-nilai minus diatas, saya juga menotice beberapa hal positif dari film ini. Film comedy ya seharusnya membuat ketawa, dan film ini benar-benar menghasilkan banyak sekali titik tawa. Sebagai sebuah film yang mendaku diri bergenre comedy, film ini sangat berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.

Gojekan Cak Sapari dan Cak Kartolo diawal film, sangat berhasil membangun atmosfer comedy di film ini. Setelahnya, film ini menghadirkan tensi comedy yang cukup intens.

Unsur-unsur comedynya juga unpredictable. Di film ini Yayan adalah salah satu sumber puncline. Salah satu adegan comedy yang paling pecah menurut saya adalah saat adegan minum kuah pop mie. Asli, itu benar-benar pecah.

Yowis-Ben

Meski akting beberapa pemain ada yang kurang oke, saya sangat mengapresiasi pemilihan pemain yang tergabung dalam kelompok Yowis Ben. Tiap-tiap pemain benar-benar  bisa main musik. Karena dasarnya sudah ada, waktu berakting main musik, jadi tampak pas.

Kalian tentu pernah melihat orang-orang yang tidak punya basic musik dipaksa berakting bermain musik, dan hasilnya adalah sebuah keanehan yang hakiki.

Oia, Mas Goen yang ditugaskan sebagai cinematografer juga sudah cukup berhasil dalam menghasilkan sudut-sudut gambar yang oke. Terlebih saat setting di Kampung Jodipan. Tiap anglenya benar-benar terlihat cantik.

Jangan khawatir dengan penggunaan 90% bahasa jawa di film ini. Film ini sudah dilengkapi subtitle yang bisa memudahkan kalian untuk mengerti. Jangan jadikan penggunaan bahasa jawa sebagai sebuah alasan kalian males nonton. Gak usah manja, biasanya nonton film Hollywood dan Korea juga ngandelin subtitle.

Lagian apa salahnya film berbahasa jawa?

Tahun 2009, ada sebuah film berjudul Punk In Love. Film ini menceritakan tentang perjalanan seorang anak punk dalam mengejar cintanya ditemani kawan-kawannya (sesama anak punk). Karena dikisahkan sang anak punk berasal dari jawa timur, tentu saja logat bahasa jawa timuran digunakan untuk menambah nilai otentik.

Kala itu, masyarakat sepertinya adem ayem saja. Bahkan banyak yang memberikan respon positif karena kisahnya yang unik dan lucu.

Pada tahun 2018 ini, Bayu Skak, seorang Youtuber asal Malang, membuat sebuah film remaja tentang anak SMA. Karena settingnya di Malang, supaya lebih otentik lagi, daripada sekedar menghadirkan logat, Bayu berinisiatif menghadirkan bahasa jawa secara dominan pada setiap dialognya. Bayu mengklaim, 90% dialognya adalah bahasa Jawa.

9 tahun berlalu, kini telah terjadi sebuah pergeseran nilai. Sebuah logat atau bahasa—disesuaikan dengan daerah dari setting ceritanya—yang dipilih untuk membuat sebuah film bisa terasa lebih real dan otentik, kemudian disangkut-pautkan dengan nilai nasionalis yang sesat pikir.

Ada beberapa netizen yang berstatement bahwa film dengan bahasa jawa adalah film untuk tki, film untuk pembantu, film untuk orang-orang jawa katro, film untuk orang-orang kampung.

Bahkan sampai ada yang memberikan komentar bahwa film ini—yang menggunakan bahasa daerah—bisa memicu perpecahan dan tidak menghargai Bhineka Tunggal Ika. Sungguh maha benar netizen dengan segala cacat logika sak karepe dewe nya.

Rasanya sungguh ingin ku sampluk mulut orang-orang itu.

Secara keseluruhan film ini adalah film yang cukup menyenangkan sebagai hiburan. Filmnya sangat ringan, comedynya juga sangat meluap. Jika kalian ingin puas tertawa setelah keluar dari bioskop, film ini sangat saya rekomendasikan. Tapi jika kalian ingin puas secara keseluruhan dalam menikmati sebuah karya film, mungkin film ini kurang bisa memberikan klimaks. (YS)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s