Pustakanafas, Kampanyekan Budaya Baca di Jalanan Purworejo.

Perpustakaan-jalanan-purworejo

Tak biasanya minggu pagi saya bangun dari kasur nyaman dengan selimut hangat bekas iler semalam. Tempat tidur adalah kenyamanan yang paling hakiki di hari minggu. Tapi minggu pagi itu saya merelakan kenyamanan untuk melihat perpustakaan jalanan yang beritanya sedang malang meintang di timeline sosial media seputar Purworejo.

Atas dasar usaha mencapai titik kekinian persona hits, rasanya sangat berdosa jika melewatkan hal ini.

“Membaca adalah melawan.” Sebuah slogan yang mencolok mata terpampang di stand banner dari Pustakanafas. Dikelilingi oleh pajangan buku-buku—yang diperbolehkan untuk dibaca secara gratis—dan area mewarnai bagi anak.

Ada banyak jenis buku yang tampak di pajang. Ada serangkaian komik Conan yang tak lengkap serinya. Ada juga comic-comic lain yang tersebar diantara buku-buku lain.

Lanjutkan membaca “Pustakanafas, Kampanyekan Budaya Baca di Jalanan Purworejo.”

Iklan

Turun Tangan Berbagi Inspirasi Nyata, Bukan Sekedar Kata-kata #KelasInspirasiPurworejo2.

WhatsApp Image 2017-05-02 at 8.49.54 PM

Kata-kata Pandji Pragiwaksono itu seperti racun. Sekali saja menelannya, racun itu pasti akan menjalar. Saya merasa terkutuk menjadi salah satu penggemar Pandji. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya “hampir selalu” membuat saya teracuni dengan pikirannya. Misalnya perkataannya tentang “kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk Indonesia”.

Awalnya, saya tidak pernah merasa tersentuh dengan hal-hal berbau nasionalisme semacam ini. Memikirkan Indonesia tidak ada untungnya bagi saya, lagipula saya yang kecil ini bisa memberi kontribusi apa untuk merubah Indonesia.

Pikir saya dulu, semua hal tentang nasionalisme hanyalah sebatas omong kosong belaka. Rasanya tidak akan ada orang yang sepeduli itu dengan negaranya. Lagipula saya juga belum merdeka secara ekonomi. Daripada memikirkan tentang omong kosong nasionalisme tadi, lebih baik saja kerja cari uang biar kaya.

Lanjutkan membaca “Turun Tangan Berbagi Inspirasi Nyata, Bukan Sekedar Kata-kata #KelasInspirasiPurworejo2.”

[PWRJ] LOMBA FOTO JEGLONGAN, KONTES SATIRE YANG MENYENTIL

Jeglongan Sewu Purworejo

Kalo Semarang punya Lawang Sewu, Purworejo punya “Jeglongan Sewu”.

Hidup di Purworejo memang menyenangkan. Selalu ada saja hal yang bisa di nyinyiri. Tak perlu jauh-jauh melihat ke Jakarta, Purworejo punya peradabannya sendiri yang tak kalah ciamiknya untuk dijadikan bahan adu argumen dan bahan kenyinyiran di sosial media.

Seperti senin pagi minggu lalu (13/2) dimana saya mendapati akun IG @purworejonan mengunggah foto aspal dengan tulisan “Lomba Foto Jeglogan”―tak lupa disertai logo purworejonan dan hastag #PWRjeglogan supaya anjay.

Tek ke… Ini redaksinya yang pengen cari sensasi atau memang orang-orangnya terlalu kreatif.

Dengan curiosity yang semakin meninggi, saya akhirnya iseng-iseng melihat kolom komentar karena saya yakin pasti akan ada banyak komentar lucu dari netizen yang pengen jadi center ofattention atau siapa tau ada akun dari dedek-dedek gemes yang turut berkomentar dan bisa di spik.

Dan viola, akhirnya saya menemukan harta karun. Akun @ganjar_pranowo―yang sama-sama kita tau bahwa beliau adalah Gubernur Jawa Tengah yang asli Purworejo―turut berkomentar di postingan ini.

Lanjutkan membaca “[PWRJ] LOMBA FOTO JEGLONGAN, KONTES SATIRE YANG MENYENTIL”

Selamat Tinggal Tahun 2016 yang Nganyeli (Menyebalkan).

walk away - storyofjho

Semua ada masanya. Ada masanya bersedih ada masanya gembira. Namun sepertinya tahun 2016 ini prosentasi kesedihan jauh lebih besar daripada kegembiraan yang saya rasakan. Sebentar… kata kesedihan mungkin kurang tepat, lebih tepatnya “Nganyeli”. Ya sepertinya itu jauh lebih cocok.

Menyedihkan itu kalo cewek yang kita sayang tiba-tiba meninggal karena nabrak bus tolelolet. Nah, kalo cewek kita di BBM gak pernah bales tapi masih sempet gonta-ganti PM, itu baru nganyeli.

Nganyeli ; anyel (bahasa jawa) – mengesalkan, membuat kesal, menyebalkan

Orang-orang bisa sampe heboh sama video YouTube tentang Flat Earth. Eh peli penyu, percuma sekolah bertahun-tahun kalo langsung percaya sama video kaya gitu. Sekalian aja nyebar isu kalo Bumi itu jajaran genjang.

Lanjutkan membaca “Selamat Tinggal Tahun 2016 yang Nganyeli (Menyebalkan).”

Teruntuk Sahabatku : Aku Bersyukur Kamu Ada Menjadi Bagian Dari Cerita Hidupku.

Best Friends

Apakah aku terdengar kampungan saat memanggilmu sahabat? Entahlah, yang jelas itulah kamu buatku. Mungkin lebih dari itu, tapi bagaimana lagi, dunia hanya mampu mendiskripsikanmu seperti itu. Seolah tak ada kosa kata yang tepat untuk menyebut statusmu.

Bagaimana hidupmu disana? Masihkah kamu bergelut dengan idealismemu? Percayalah, bagaimanapun kamu, aku akan tetap mendukungmu. Mungkin aku tak cukup hebat untuk membantumu, tapi semoga saja spirit yang aku bagi bisa cukup menguatkanmu.

Lanjutkan membaca “Teruntuk Sahabatku : Aku Bersyukur Kamu Ada Menjadi Bagian Dari Cerita Hidupku.”

[CERPEN] Tumbuh Bersama Diladang yang Berbeda

Sumber : wallarthd.com

Perkenalkan nama saya Jho dan saya ini jomblo

Kelihatan dari mukanya gitu kan. Penuh tatapan nanar.
Dari keringetnya ajah baunya lain. Ini yang didepan ini penasaran nyari tau bedanya.

Suasana yang awalnya hening tiba-tiba mulai gaduh, soalnya ada konvoi motor King. Tak beberapa lama suara gaduh dari knalpot King menghilang. Aku melanjutkan.

Saya emang susah nyari cewek, tapi saya juga milih-milih kalo nyari cewe. Soalnya, kadang saya suka illfeel sama cewe yang mukanya sih cantik, tapi ngomongnya ngapak.

Rasanya itu ganjel banget dikuping. Udah ngapak, sok-sokan pake lo gue lagi. Bukannya jadi gaul malah kedengeran kaya lagi nomong pake bahasa Slovakia.

Masih belum ada tawa, cuma ada suara riak-riak tak jelas dari pengunjung cafe dan suara gaduh sendok yang beradu dengan piring. Ada teriakan lirih mengalun, “Inyong we ngapak, juk ngapa. Ora ngapak ora kepenak. (Saya saja ngapak, terus kenapa. Tidak ngapak, tidak enak.)”

Walaupun sekarang jomblo, saya dulu pernah pacaran yah. Kita udah mau tunangan tapi akhirnya saya diputusin karena mantan saya lebih memilih cowok lain.

Suara lirih itu kembali mengalun, “Ya pantes diputus. Wes rupane elek, ora lucu, cangkeme rusak (Ya pantes diputus, sudah mukanya jelek, gak lucu, mulutnya rusak).” Dalam hati, rasanya pengen tak colok mata itu cewek pake garpu. Tapi saya urungkan niat tersebut dan mempertimbangkan menggunakan gagang cangkul. Ya, mungkin rasanya bakal lebih greget.

Lanjutkan membaca “[CERPEN] Tumbuh Bersama Diladang yang Berbeda”

[CERPEN] Bapak Tetaplah Bapakku

“Mas, terus besok yang ambil pengumuman kelulusan kamu siapa? Bapak udah terlanjur nerima job dalang manten.”

“Yaudah nanti aku dateng sendiri ajah gak papa pak.”

“Emang boleh kalo gak sama wali? Apa nanti bapak jam 8 tak kesekolahan dulu nyempetin ngambil dulu?”

“Gak usah pak gak papa. Boleh lah, nanti aku yang jelasin ke wali kelas.”

Mataku berkaca-kaca karena obrolan singkat malam ini. Hal seperti ini bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya, untuk beberapa kali, aku harus mengambil rapotku sendiri. Bahkan di hari kelulusanpun, aku harus kembali mengambil pengumuman sendiri.

Yah, bagaimana lagi, kerjaan Bapakku memang tidak menentu jadwalnya. Kalo Bapakku tidak ada job dalang manten atau MC orgen tunggal, keluarga kami bakalan gak makan. Kadang aku merasa Bapak tidak memperhatikan diriku, tapi ya sudahlah.

**

Pagi itu aku berangkat sendiri mengambil pengumuman kelulusanku di SMA. Teman-temanku sudah datang bersama orang tua mereka. Acara ini memang disetting orang tua dan anak untuk duduk bersebelahan.

Aku agak kurang bersemangat hari itu, aku berasa jadi alien karena harus datang sendiri. Aku menghampiri meja yang ditunggui oleh 2 orang adek kelasku.

“Mas Jho ngisi absen dulu mas. Lho kok sendiri mas, walinya dimana?” Seorang yang menjaga meja absen ini menatap kebingungan.

“Aku sendiri.” Aku langsung menandatangani absen dan langsung masuk kedalam aula.

Aku mengambil tempat duduk paling belakang. Entahlah, aku benar-benar tidak besemangat. Aku bahkan belum menyapa temanku, satupun.

Lanjutkan membaca “[CERPEN] Bapak Tetaplah Bapakku”

Terus Perkatakan Kebenaran, Jangan Biarkan Tersembunyikan.

Sumber : semarangdaily.com

Saya selalu bertanya-tanya, mengapa ada begitu banyak orang yang rela keluar dari kenyamanannya dan memperjuangkan sesuatu yang notabene perjuangan itu tidak serta merta dihargai semua orang.

Widji Thukul, Munir, dan mungkin masih banyak lagi tokoh pejuang HAM yang rela kehilangan nyawanya. Memang ada banyak orang yang akhirnya ikut kedalam arus perjuangan seperti mereka, tapi tidak sedikit juga orang-orang yang memandang skeptis hal ini.

Saya lahir di tahun ’93. Masih terlalu muda untuk saya mengerti berbagai kejadian yang terjadi pada jaman kekuasaan ORBA. Tidak hanya berhenti di layer “belum mengerti”, bahkan selama 19 tahun saya hidup, saya diperhadapkan dengan tembok “mending tidak usah mengerti”.

Setiap hari saya selalu melihat sticker “Pie Kabare Le, Penak Jamanku To” di kaca mobil Bapak. Bapak saya selalu berkata bahwa jaman kepemimpinan Bapak Pembangunan, rakyat benar-benar makmur. Semua hal serba masih murah. Tidak seperti sekarang ini.

Saya selalu bertanya dalam benak, sebenarnya apakah yang dulu sempat terjadi. Kenapa orang-orang terpecah dalam dua kubu. Mereka yang begitu terbuai kenangan jaman ORBA dengan kemakmurannya, dan mereka yang berjuang mati-matian jangan sampai jaman ini terualang lagi.

Sebenarnya pihak mana yang benar? Apakah saya harus memihak? Atau saya hanya harus berdiri di zona abu-abu dan tidak mau tau dengan semua kebenarannya?

Lanjutkan membaca “Terus Perkatakan Kebenaran, Jangan Biarkan Tersembunyikan.”

Perjalanan Mengalahkan Diriku Sendiri

1462634725373 (1)

Sudah satu bulan sejak update terakhir blog ku, dan aku masih belum yakin mau menulis apa lagi untuk menghidupkan blog ini. Menjadi pegawai disebuah kantor memang cukup menyita waktuku. Aku harus fokus di pekerjaan utamaku dan sementara harus mengesampingkan ego ku untuk berkarya. Sebenarnya kerjaannku sama-sama nulis juga sih (aku menulis di compusiciannews.com), i really enjoy my job. Tapi gimanapun juga kerja tetaplah kerja, disitu aku harus mengikuti standar dan aturan perusahaan. Aku benar-benar kangen bisa menulis sesuatu secara subyektif.

Janjiku pada diriku sendiri adalah setiap minggu aku akan rutin mengupdate blog ini sebagai pelampiasan ide dan pikiranku. Tapi apa daya, akhirnya jadi wacana dan baru bulan ini bisa update lagi. Tapi tak apalah, semuanya baik di waktu yang tepat. Seperti aku yang baru bisa menulis sekarang, mungkin inilah waktu yang paling tepat buatku.

Anyway, aku juga sudah lama banget gak berpetualang dan gak menuliskan kisah petualanganku. Terakhir kali aku mengisahkan petualanganku,  aku menulisnya di artikel “Ngetrip Biar Hidup Lebih Maximal“. Dan ini aku tulis tahun lalu. Derrrr !!!

Aku selalu menikmati perjalananku menembus alam. Bukan karena mau sok-sok an jadi anak hits atau ngikutin tren ngetrip, tapi aku selalu mendapat sesuatu yang baru dari setiap perjalanan itu.

Tahun lalu untuk pertama kalinya aku mendaki gunung Andong di Magelang, dan tahun ini aku berkesempatan untuk mendaki gunung Prau di Dieng.

Lanjutkan membaca “Perjalanan Mengalahkan Diriku Sendiri”

Layakah Disebut Penulis (Sebuah Perenungan – Back To Blogging)

Sumber : Pixabay

Entah sudah berapa lama sejak postingan terakhir blog ini dibuat. Lagi pula entah blog ini ada yang baca atau engga. Tapi bagaimanapun juga, blog ini harus tetap ada sebagai bentuk komitmenku untuk berkarya.

Entah sudah berapa lama, sejak hidupku diguncang habis-habisan. Kuliah harus stop gara-gara gak ada biaya, nyoba kerja, eh bayarannya cuma cukup buat beli pulsa. Dalam kondisi kaya gini yang ada dipikiran cuma “Gimana aku bisa menghasilkan uang buat makan.”

Saat kalian yang bekerja sangat mendambakan libur panjang, percayalah aku sudah bosan libur terlalu panjang. Dalam masa-masa selo, aku cuma bisa nulis di blog, sampai akhirnya wovgo.com tertarik memperkerjakanku sebagai seorang penulis konten dan yah dari situlah aku bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walaupun aku sudah tidak lagi menjadi bagian dari wovgo.com, tapi wovgo tetap menjadi bagian dari diriku yang gak akan pernah terpisahkan, dia ada dalam bagian perjalanan hidup yang tidak akan aku ingkari dan orang-orang didalamnya juga akan tetap menjadi keluargaku.

Sejak saat keluar dari wovgo, aku mulai merintis karir sebagai penulis konten. Yah walaupun aku masih ragu menyebut diri sebagai penulis. Kenapa? Ada satu hal yang menamparku.

Lanjutkan membaca “Layakah Disebut Penulis (Sebuah Perenungan – Back To Blogging)”